Rupiah Melemah 0,25% Dekati Rp 18.000 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (28/9/2026), rupiah melemah 0,25% ke posisi Rp 17.948 per dolar AS.
Pelemahan tak hanya terjadi terhadap rupiah. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS.
Yen Jepang melemah 0,27%, yuan China melemah 0,03%, ringgit Malaysia melemah 0,21%, won Korea Selatan melemah 0,32%, baht Tailan melemah 0,47%, dan dolar Singapura mepemah 0,09%.
Baca Juga
Minyak Kembali Tembus US$ 106, Rupiah Tertekan Dekati Rp 18.000
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat Imbal hasil UST tenor 10 tahun turun 3,7 bps menjadi 5,16%, sementara imbal hasil UST tenor 2 tahun turun 6,0 bps menjadi 4,81%, seiring penurunan harga minyak yang untuk sementara meredakan kekhawatiran inflasi.
Meski begitu indeks dolar AS atau DXY yang terdepresiasi tak meredakan tekanan ke sejumlah mata uang di Asia. Meski menurun 0,31%, posisi DXY masih berada 100,97 pada Jumat.
Sementara itu, indeks sentimen konsumen AS final September turun menjadi 48,1 dari 51,7 pada Agustus, sedangkan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan meningkat menjadi 4,6%. Rilis data utama AS pekan ini mencakup JOLTS, inflasi PCE dan data final PDB 2Q26, ISM manufaktur, serta nonfarm payrolls September.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih tinggi, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 69% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC Oktober, menyusul kenaikan 25 bps yang dilakukan The Fed pada awal bulan ini. Investasi bisnis yang tetap resilien, ekspektasi inflasi yang tinggi, serta harga energi yang masih tinggi terus mendukung kecenderungan kebijakan moneter yang lebih ketat (tightening bias), meskipun penurunan imbal hasil UST pada Jumat memberikan sedikit kelonggaran untuk sementara.
Baca Juga
Rupiah Dibuka Melemah Terset Ekspektasi Berlanjutnya Kenaikan Suku Bunga the Fed
Pada Jumat lalu, harga minyak mentah Brent turun 2,14% menjadi US$ 104,3 per barel. Akan tetapi, harga minyak kembali naik ke sekitar US$ 106,1 per barel pagi ini, setelah AS menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Harga Brent futures naik sekitar 1,7% pada perdagangan awal Asia, membalik sebagian penurunan pada Jumat dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi yang didorong oleh energi serta sentimen risiko global.
