Gubernur BI Jelaskan Pemanfaatan AI untuk Deteksi Transaksi Fraud dan Pajak Daerah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan pemanfaatan akal imitiasi (AI) di sektor keuangan. Destry mengatakan bahwa AI telah dimanfaatkan untuk mendeteksi fraud atas transaksi di sektor ini.
Untuk itu, Destry mendorong inovasi dari talenta digital Indonesia untuk menggunakan AI untuk mengidentifikasi indikasi fraud ini.
“Dia mengembangkan AI untuk mengidentifikasikan transaksi-transaksi yang fraud,” kata Destry dalam acara FEKDI x ISEF 2026, di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (25/9/2026).
Baca Juga
Destry menjelaskan bahwa inovasi ini telah dikembangkan sejumlah bank. Bahkan, pengembangan AI juga telah masuk ke sistem pembayaran pemerintah daerah. Salah satu pemenang Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) yang digagas BI bahkan dapat mengembangkan potensi penerimaan pajak daerah.
“Jadi dia meng-combine aplikasi Google Map dengan data-data yang ada di pemerintah daerah, khususnya terkait pajak daerah,” kata dia.
Dengan pemetaan menggunakan AI akan terlihat apakah pajak daerah yang diterima oleh daerah bersangkutan itu sudah memenuhi potensi yang ada.
“Dia lihat ini ada hotel, restoran, segala majak, mestinya membayarkan pajak daerah, PBB [pajak bumi dan bangunan] atau apapun kepada daerah,” ucap dia.
Selain itu, pengembangan digital juga mendorong talenta digital tumbuh. Untuk itu, BI juga menggelar business matching antara pengembang produk digital dengan investor.
Destry menjelaskan BI juga menggelar kursus singkat untuk mengembangkan kemampuan talenta digital di FEKDI x ISEF 2026. Kursus ini untuk membekali anak-anak muda dengan ilmu pengetahuan baru agar terus berinovasi.
“Inovasi itu harus dibuat menjadi suatu karya nyata, yang akan memberi dampak nyata, baik itu secara mikro maupun makro,” kata dia.
Baca Juga
Bank Indonesia Targets 69.3M QRIS Users by Year-End in Digital Payments Blitz
Destry mengatakan bahwa berbagai pengembangan ini memerlukan sinergi lintas kementerian/lembaga (K/L) dan seluruh pemangku kepentingan bernama Sinergi Merah Putih.
Meski demikian, Destru terus mengngatkan bahwa penggunaan AI memerlukan kebijaksanaan manusia. Sebab, manusia berfungsi untuk menganalisa sekumpulan data yang dihasilkan AI.
“Bukan apa-apa, faktanya kita butuh teknologi, data science. Kami sekarang di Bank Indonesia sekarang analisa, dengan begitu banyak data, kita butuh kemampuan membaca AI dengan baik,” kata dia.
