BI Proyeksikan Transaksi Digital Tembus 147,3 Miliar pada 2030, Ini 3 Strategi Utamanya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Bank Indonesia (BI) memproyeksikan volume transaksi ekonomi dan keuangan digital nasional akan terus melonjak tajam hingga mencapai 147,3 miliar transaksi pada tahun 2030. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh percepatan adopsi teknologi pembayaran serta pergeseran perilaku masyarakat yang semakin digital.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, menyampaikan bahwa transformasi digital di Indonesia berkembang sangat signifikan. Pada tahun 2020, volume transaksi digital tercatat sekitar 8 miliar transaksi, lalu melonjak menjadi 37 miliar transaksi pada 2024.
"Kami memperkirakan ini akan terus meningkat dan mencapai 147,3 miliar transaksi pada tahun 2030," ujar Ricky saat menyampaikan Leaders Insight dalam sesi Casual Talk FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta Convention Center, Kamis (24/9/2026).
Ricky menjelaskan, ada tiga faktor utama yang mendorong pesatnya digitalisasi keuangan di Tanah Air. Pertama, adaptasi masyarakat yang semakin terbiasa dengan transaksi digital. Kedua, prospek perekonomian nasional yang terus menunjukkan tren positif. Ketiga, pesatnya inovasi teknologi dalam sistem pembayaran.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 melalui inisiatif "4I + RD". Kerangka kerja ini mencakup penguatan infrastruktur, industri, inovasi, konektivitas internasional, serta pengembangan Rupiah Digital.
"Alhamdulillah, dengan dukungan seluruh mitra kerja, kita berhasil melahirkan berbagai inovasi unggulan seperti QRIS, BI-FAST, serta program Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD)," tambahnya.
Di tingkat regional, adopsi teknologi pembayaran juga menunjukkan hasil nyata. Hingga semester I-2026, sebanyak 518 dari 546 Pemerintah Daerah (94,9%) telah masuk dalam kategori digital melalui Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD).
Sementara itu, penggunaan QRIS telah menembus sekitar 69 juta pengguna dengan lebih dari 47 juta merchant, yang mana 96 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM. Tak hanya di dalam negeri, layanan QRIS lintas negara (cross-border) kini sudah terkoneksi dengan enam negara—Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan—serta akan segera diperluas ke Hong Kong dan Timor Leste.
Baca Juga
BNI Hadirkan Layanan Transaksi Digital di Indonesia Masters 2026
