BTN (BBTN) Salurkan KPP Rp 7,4 Triliun, Kuota Nasional Naik Jadi Rp 50 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah menyalurkan Kredit Program Perumahan (KPP) secara kumulatif sebesar Rp7,4 triliun sejak program tersebut diluncurkan. Penyaluran terdiri atas Rp5,4 triliun melalui KPP Supply dan Rp2 triliun melalui KPP Demand.
Direktur Corporate Banking BTN Helmy Afrisa mengatakan KPP dirancang untuk memperluas akses pembiayaan di berbagai sisi ekosistem perumahan, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat produktif.
“Melalui KPP Supply dan KPP Demand, BTN berupaya memperluas akses pembiayaan di seluruh ekosistem perumahan,” ujar Helmy dalam Sosialisasi Kredit Program Perumahan di Menara BTN, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga
BTN Siapkan Langkah Hukum Terkait Klaim Dana Nasabah di Medsos
KPP Supply dapat dimanfaatkan oleh developer, kontraktor, dan pedagang bahan bangunan dengan plafon kredit hingga Rp5 miliar. Sementara KPP Demand memberikan pembiayaan hingga Rp500 juta bagi UMKM perorangan untuk membeli, membangun, atau merenovasi rumah yang mendukung kegiatan usaha.
Di Jakarta dan sekitarnya, BTN mencatat 353 peminatan KPP dengan total plafon Rp424,94 miliar. Rinciannya, 57 peminatan KPP Supply senilai Rp288,97 miliar dan 296 peminatan KPP Demand senilai Rp135,97 miliar.
Helmy mengatakan tingginya peminatan menunjukkan kebutuhan pembiayaan berasal dari berbagai bagian dalam ekosistem perumahan. BTN pun akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk memperluas penyaluran KPP.
Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengapresiasi penyaluran KPP dan menilai program tersebut dapat membantu pelaku UMKM dalam ekosistem perumahan meningkatkan skala usaha.
Menurut Maruarar, respons terhadap KPP cukup positif meski program tersebut relatif baru. Kondisi tersebut mendorong pemerintah meningkatkan kuota KPP nasional dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun.
“Programnya boleh baru, belum sampai setahun, tetapi ternyata responsnya sangat positif. Penyerapan sangat tinggi, makanya kuotanya dinaikkan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun,” kata Maruarar.
Baca Juga
Ia juga menyebut BTN menjadi bank dengan penyaluran KPP Supply tertinggi. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari nilai pembiayaan, tetapi juga dari kemampuan KPP mendorong UMKM berkembang menjadi usaha berskala lebih besar.
Maruarar menilai sektor perumahan memiliki efek berganda terhadap perekonomian karena melibatkan developer, kontraktor, toko bangunan, tenaga kerja, industri manufaktur, transportasi, hingga berbagai usaha masyarakat.
Adapun sepanjang Januari hingga 9 September 2026, penyaluran KPP BTN telah mencapai Rp5,25 triliun dari target Rp10 triliun pada tahun ini.
