Anindya Bakrie Dorong Kartu Perjalanan Bisnis dan Integrasi Pembayaran BRICS
Poin Penting
|
NEW DELHI, Investortrust— Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyerukan agar kekuatan ekonomi BRICS diterjemahkan menjadi kemudahan nyata bagi pelaku usaha untuk mencari mitra, memasuki pasar, menawarkan jasa, dan menerima pembayaran lintas negara. Integrasi BRICS, menurutnya, harus dapat dirasakan hingga oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bukan hanya perusahaan besar.
Seruan tersebut disampaikan Anin dalam Leaders’ Session BRICS Business Forum 2026 bertema “Unlocking Intra-BRICS Trade in Services: New Pathways for Growth and Cooperation” di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Jumat (11/09/2026).
Forum tersebut dihadiri Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Kehadiran para pemimpin itu menegaskan besarnya perhatian terhadap peningkatan kerja sama ekonomi dan bisnis di antara negara-negara BRICS.
“Ketika kita berbicara tentang BRICS, kita berbicara tentang hampir separuh penduduk dunia, sekitar 40% perekonomian global, dan hampir seperempat perdagangan dunia,” kata Anin, nama sapaan Anindya dalam pidatonya.
Ia pun mengaku sangat terhormat karena mendapatkan kesempatan bicara di depan pemimpin negara besar.
Baca Juga
Di Forum BRICS Mendag Budi Santoso Dorong Aturan Dagang Global yang Adil Bagi UMKM
Dengan bobot ekonomi sebesar itu, lanjut Anin, BRICS memiliki kekuatan untuk ikut menentukan arah masa depan perekonomian dunia. Namun, kekuatan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dan kerja sama ekonomi dapat dinikmati oleh semakin banyak orang.
Anin menekankan bahwa perdagangan jasa tidak dapat dipisahkan dari industrialisasi. Sebuah pabrik membutuhkan dukungan teknik, pembiayaan, perangkat lunak, logistik, dan beragam layanan profesional lainnya. Karena itu, perdagangan jasa dan pembangunan industri tidak saling menggantikan, tetapi justru saling memperkuat.
Ia mengambil contoh Swiss, negara yang tidak memiliki tambang emas maupun menghasilkan komoditas pangan dalam jumlah besar, tetapi mampu memurnikan sekitar dua pertiga emas dunia dan menangani sekitar 60% perdagangan logam global. Nilai tambah terbesar, menurut Anindya, berada pada jasa yang mengelilingi komoditas tersebut. “BRICS harus membangun sendiri lapisan nilai tambah itu,” ujarnya.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama perdagangan jasa sejalan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat hilirisasi sumber daya alam dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kolaborasi di sektor jasa juga berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik.
Untuk mewujudkan agenda tersebut, Anin menawarkan tiga prioritas. Pertama, negara-negara BRICS perlu mempermudah kegiatan usaha lintas batas. BRICS Business Council dapat memetakan secara terperinci hambatan yang dihadapi perusahaan, kemudian membawa solusi konkret kepada pemerintah masing-masing.
Kemudahan tersebut, kata dia, dapat diwujudkan melalui penyederhanaan perizinan, pengakuan bersama atas kualifikasi untuk profesi tertentu, serta kemudahan perjalanan bisnis. Anindya secara khusus mengusulkan pembentukan BRICS Business Travel Card guna memperlancar mobilitas pengusaha dan profesional di antara negara anggota.
Kedua, BRICS perlu menghubungkan dan memperkuat sistem pembayaran masing-masing negara. India, Brasil, dan Tiongkok secara bersama-sama mencakup sekitar tujuh dari setiap 10 transaksi pembayaran waktu nyata atau real-time payment di dunia. Kapasitas tersebut menunjukkan besarnya peluang membangun sistem pembayaran lintas batas yang lebih cepat, murah, dan efisien.
Anin juga mendorong perluasan pembayaran menggunakan mata uang lokal sepanjang layak secara komersial, disertai perlindungan terhadap data dan stabilitas sistem keuangan. “Kedaulatan keuangan tidak harus berarti isolasi keuangan,” tegasnya.
Gagasan ini sejalan dengan pembahasan yang lebih luas dalam rangkaian pertemuan BRICS di New Delhi mengenai interoperabilitas sistem pembayaran serta transaksi lintas batas yang cepat, aman, dan berbiaya rendah. Reuters melaporkan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral BRICS turut mendorong peningkatan koordinasi di bidang tersebut.
Ketiga, negara anggota harus meningkatkan investasi pada manusia dan infrastruktur yang memungkinkan perdagangan jasa berkembang. Dunia usaha perlu memperbanyak pelatihan tenaga kerja, membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta membantu usaha kecil memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga
Prabowo Apresiasi Dukungan India untuk Indonesia di BRICS, Perkuat Kolaborasi Global South
Anin mengusulkan agar seluruh chapter BRICS Business Council secara terbuka melaporkan jumlah orang yang dilatih oleh perusahaan-perusahaan anggotanya setiap tahun. Sementara itu, New Development Bank dapat mengambil peran lebih besar dalam membiayai jaringan digital, pusat pelatihan, dan infrastruktur pendukung.
Sebagai salah satu anggota baru, Indonesia, kata Anin, tidak boleh hanya menjadi pasar tambahan bagi negara-negara BRICS. Indonesia harus ikut merancang arah dan agenda kerja sama, sekaligus memastikan setiap kemitraan membangun kemampuan produksi, teknologi, dan sumber daya manusia di seluruh negara anggota.
“UMKM di Surabaya, São Paulo, Durban, atau Alexandria harus dapat menemukan pelanggan, memberikan layanan, dan menerima pembayaran di seluruh kawasan BRICS. Itulah ujian sesungguhnya bagi integrasi BRICS yang bermakna,” tuturnya.
Menutup pidatonya, Anin mengangkat kembali semangat Konferensi Asia-Afrika 1955. Dalam Semangat Bandung, kerja sama BRICS harus menjadi jembatan yang semakin mendekatkan negara-negara anggotanya sekaligus membuka jalan menuju kemakmuran bersama.
“Indonesia siap membantu membangun koneksi tersebut. Mari menjadikan masa depan yang kita lihat dalam BRICS sebagai masa depan yang dapat dinikmati bersama oleh seluruh rakyat kita,” pungkas Anin.
