Rupiah Bergerak Menguat pada Awal Perdagangan Jumat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (21/8/2026). Rupiah bergerak menguat 0,08% menjadi Rp 17.734 per dolar AS.
Nilai tukar mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Yuan China dan yen Jepang menguat masing-masing 0,03%. Sementara itu, dolar Singapura dan baht Tailan menguat masing-masing 0,12%.
Pelemahan terpantau terjadi pada nilai tukar ringgit Malaysia dan peso Filipina. Ringgit melemah 0,01% dan peso melemah 0,12%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan indeks DXY menguat tipis 0,06% menjadi 98,90 setelah sebelumnya mengalami penurunan.
Sementara itu, kenaikan kembali imbal hasil Treasury sebagian membalikkan reli pasar yang sebelumnya dipicu oleh perluasan program pembelian kembali obligasi (bond buyback) oleh Departemen Keuangan AS. Imbal hasil UST 30 tahun kembali berada di sekitar 5,24%, karena pasar masih khawatir bahwa program buyback tersebut hanya memberikan kelegaan sementara tanpa mengatasi tekanan fiskal, inflasi, dan pasokan obligasi yang masih persisten.
"Kombinasi kenaikan imbal hasil Treasury dan sentimen risk-off memberikan dukungan moderat terhadap dolar AS," kata Andry.
Andry mencatat data ketenagakerjaan dan manufaktur AS tetap menunjukkan ketahanan. Klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 206.000 dari sebelumnya 212.000, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sekitar 210.000.
Sementara itu, Philadelphia Fed Manufacturing Index menguat menjadi 47,4 pada Agustus dari 41,4, jauh di atas ekspektasi.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September masih terbatas, tetapi pertemuan tersebut tetap dianggap terbuka untuk kemungkinan kenaikan. Kontrak futures Fed funds menunjukkan probabilitas sekitar 33–35% untuk kenaikan 25 bps.
Baca Juga
Sementara itu, risalah FOMC Juli menunjukkan bahwa beberapa pejabat The Fed masih mengkhawatirkan inflasi dan mendukung pengetatan kebijakan lebih lanjut apabila tekanan harga terus berlanjut.
Pasar hari ini akan mencermati data awal PMI AS bulan Agustus untuk mendapatkan indikasi lebih lanjut mengenai momentum ekonomi dan tekanan inflasi. Perhatian selanjutnya akan beralih pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan depan untuk memperoleh panduan yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter.

