BRI Mengangkat Harkat Usaha Ultra-Mikro
Penulis: Maulana Kautsar Rahmad
Jakarta, investortrust.id – Nasib usaha mikro dan ultra-mikro (UMi) di Indonesia bergantung pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pernyataan ini tidak berlebihan. Pada September 2023, nasabah Holding Ultra-Mikro yang terdiri dari BRI, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan PT Pegadaian, telah mencapai 36,6 juta. Jumlah itu setara 57% nasabah mikro dan ultra mikro di Indonesia yang saat ini sekitar 64 juta.
Angka 36,6 juta tentu bukanlah angka kecil dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja dan dampak ekonominya. Jika satu usaha ultra-mikro menyerap dua tenaga kerja, berarti ada 73 juta tenaga kerja yang terserap. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Agustus 2023, angkatan kerja Indonesia 147,7 juta, yang bekerja 139,8 juta. Artinya, lebih dari 50% tenaga kerja bekerja di sektor usaha ultra-mikro.
Dengan demikian, dampak Holding Ultra-Mikro di bawah komando BRI mampu memberi menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 50% angkatan kerja. Hal ini berarti ada dampak terhadap berkurangnya pengangguran dan kemiskinan di Tanah Air.
Jumlah itu diyakini akan bertambah. BRI menargetkan, jumlah nasabah Holding Ultra-Mikro akan tumbuh menjadi 45 juta orang pada 2024. Artinya, ke depan akan semakin banyak angkatan kerja yang terserap, dan lebih banyak masyarakat yang semakin sejahtera.
Setelah sah mengambil alih PNM dan Pegadaian pada 13 September 2021, dan mampu merangkul 36 juta nasabah, menjadikan BRI menjadi holding ultra-mikro terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Melansir data yang sudah dipublikasikan, BRI memiliki sekitar 14 juta nasabah, PNM sekitar 15 juta nasabah, dan Pegadaian 7 juta nasabah.
Holding Ultra-Mikro, per September 2023, telah menyalurkan pembiayaan senilai hampir Rp 591 triliun. Jumlah itu terdiri dari penyaluran oleh BRI senilai Rp 479,9 triliun, PNM senilai Rp 45,3 triliun, dan Pegadaian Rp 65,6 trililun.
Kenyataan tersebut membuktikan betapa dahsyatnya potensi segmen usaha ultra-mikro bagi perekonomian nasional. Dengan dukungan BRI bersama Holding Ultra-Mikro, potensi tersebut mampu menjadi daya ungkit yang luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga
Sunarso: Sinergi BRI, PNM, dan Pegadaian, Terobosan Pemberdayaan Pelaku Usaha Ultra Mikro dan Mikro
Bank yang didirikan Raden Bei Aria Wirjatmadja pada 16 Desember 1895 tersebut, kini menjadi kampiun di sektor usaha micro-financial. Ekosistem yang sudah terbentuk bersama PNM dan Pegadaian, menjadi modal bagi BRI untuk terus meningkatkan kredit kepada usaha mikro dan ultra-mikro.
Sektor ini pula yang memberi peran besar terhadap kontribusi BRI dalam pemberdayaan UMKM nasional. Nilai penyaluran kredit oleh BRI bersama Holding Ultra-Mikro yang sebesar Rp 591 triliun per September 2023, mengambil porsi 41% terhadap penyaluran kredit UMKM secara nasional yang sebesar Rp 1.426 triliun.
Sedangkan penyaluran kredit UMKM oleh BRI (bank only) pada periode yang sama yang sebesar Rp 1.038 triliun, atau 72% dari total penyaluran kredit UMKM secara nasional.
Akan Bertumbuh
Kiprah BRI bersama Holding Ultra-Mikro menggarap segmen usaha ultra-mikro masih terbuka lebar. Sebab, ceruk pasar sektor ultra-mikro, dan juga mikro, masih sangat besar.
Baca Juga
Holding Ultra Mikro Makin Berkembang, Kini Layani 36 Juta Nasabah
Merujuk data yang disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal, saat ini terdapat sekitar 64 juta pelaku UMKM. Dari jumlah itu, menurutnya, hanya sekitar 700.000 yang masuk segmen usaha kecil, sedangkan segmen usaha menengah kurang dari 100.000 pelaku usaha. Dengan demikian, lebih dari 60 juta merupakan pelaku usaha mikro, di mana ultra-mikro termasuk di dalamnya.
Dari keseluruhan pelaku UMKM yang saat ini memiliki akses permodalan ke bank baru sekitar 25%, dan sebagian besar adalah pelaku usaha kecil dan menengah. Artinya hanya segelintir pelaku usaha mikro yang bankable. Inilah potensi besar yang masih bisa digarap BRI bersama Holding Ultra-Mikro ke depan. Target 45 juta nasabah ultra-mikro tahun depan diyakini akan dapat tercapai, sehingga semakin banyak sektor usaha akar rumput yang terbantu.
Dari sisi profil risiko, sektor ultra-mikro juga dianggap lebih kebal terhadap gejolak ekonomi nasional maupun global. Sebab, mayoritas jenis usaha ultra-mikro adalah kebutuhan sehari-hari, sehingga tidak pernah kehilangan pasar (demand) dan di sisi lain kebutuhan modalnya cukup tinggi.
Kecilnya profil risiko tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL). Untuk bank yang fokus di UMKM dengan 83% portofolionya di UMKM, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan, NPL BRI per triwulan ketiga tahun ini sebesar 3,14%, di mana khusus NPL kredit segmen mikro hanya tercatat 2,41%.
Kunci Sukses
Sukses BRI bersama Holding Ultra-Mikro menggarap pelaku usaha ultra-mikro bisa terwujud berkat strategi bisnis yang dijalankan. Di BRI, misalnya, masih menerapkan pendekatan hybrid untuk melayani nasabah. Meskipun di tengah arus digitalisasi yang telah merambah pedesaan, tidak bisa menutup mata masih ada kelompok masyarakat yang masih membutuhkan pelayanan secara langsung oleh petugas bank.
Untuk itulah BRI tetap mempertahankan pendekatan fisik dengan menerjunkan sekitar 700.000 agen BRILink. Merekalah ujung tombak menjangkau nasabah yang belum tersentuh digitalisasi. Layanan yang diberikan agen BRILink meliputi pembukaan rekening Simpedes Umi, Tabungan Emas, dan pengajuan pinjaman UMi.
Sepanjang Januari-September 2023, BRI telah mendapatkan 2,15 juta refferal atau rekomendasi penyaluran kredit dari agen BRILink. Jumlah itu meningkat lebih tiga kali lipat dari periode yang sama tahun 2022, di mana baru ada 601.100 refferal.
Baca Juga
Sambut Bulan Inklusi Keuangan, Holding Ultra Mikro Luncurkan Aplikasi SenyuM Mobile
Dalam menyalurkan kredit, Holding Ultra-Mikro masih mengandalkan outlet fisik, di samping menggunakan kanal digital. Per September 2023, Holding Ultra-Mikro memiliki outlet fisik sebanyak 15.300 unit, terdiri dari 6.809 outlet BRI, 4.087 kantor Pegadaian, dan 4.482 kantor PNM.
Selain itu, ketiganya juga punya jaringan kantor bersama yang bernama Senyum (Sentra Layanan Ultra Mikro) sebanyak 1.016 unit. Jaringan tersebut didukung oleh tenaga pemasar mikro sebanyak 74.200, terdiri dari 29.900 Mantri BRI, 2.500 penaksir Pegadaian, dan 44.800 Account Officer (AO) PNM.
Holding Ultra-Mikro juga mendigitalisasi layanan nasabah. Layanan kredit ultra mikro lewat kanal digital terdiri dari BRISPOT, Pegadaian Selena, dan PNM Digi. Belum lama ini, layanan Senyum juga sudah didigitalisasikan dengan meluncurkan Senyum Mobile pada Oktober 2023. Ini menjadi platform digital yang terintegrasi dari BRI, Pegadaian dan PNM yang bisa melakukan cross selling dan akuisisi bersama.
Selain itu, penyaluran kredit ultra-mikro juga didukung oleh sejumlah program pemberdayaan unggulan yang dijalankan BRI. Di antaranya adalah program Desa BRILian. Hingga akhir September 2023, BRI telah memiliki 2.843 desa binaan di seluruh Indonesia. Desa-desa tersebut mendapatkan berbagai pelatihan dari BRI untuk meningkatkan kapabilitas perangkat desa, pengurus BUMDes dan pelaku UMKM di desa.
Program lainnya adalah Klasterku Hidupku. Program itu saat ini telah memberdayakan lebih dari 18.000 klaster usaha di seluruh Indonesia. Klaster-klaster tersebut setidaknya telah mendapatkan 1.411 pelatihan dan literasi, serta 391 bantuan sarana dan prasarana produksi.
BRI juga memiliki 54 Rumah BUMN. Program ini menjadi rumah bagi lebih dari 400.000 pelaku UMKM, dengan lebih dari 11.000 pelatihan yang telah diberikan.
Kehadiran Holding Ultra-Mikro, menegaskan besarnya peran BUMN dalam memacu pertumbuhan ekonomi, khususnya melayani segmen usaha paling bawah. Tagline “Memberi Makna Indonesia” mampu diwujudkan BRI melalui sinergi bersama PNM dan Pegadaian, dengan memberdayaan usaha ultra-mikro.

