Laba Bersih SMBC Indonesia (BTPN) Naik 40,3% Jadi Rp 1,4 Triliun di Semester I 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) mencatat laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 1,4 triliun pada semester I 2026 atau meningkat 40,3% secara year on year (yoy), termasuk hasil pengalihan portofolio kredit pensiun. Di sisi bersamaan, laba bersih bank only tumbuh 86% (yoy) menjadi Rp 1,07 triliun.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengungkapkan, kinerja semester I 2026 mencerminkan komitmen pihaknya untuk terus membangun fondasi bisnis yang semakin kuat agar mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi dalam dan luar negeri, termasuk industri perbankan.
“Kami terus memperkuat fundamental bisnis agar perseroan mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Setiap langkah strategis diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pencapaian kinerja dan penciptaan nilai tambah agar hidup seluruh pemangku kepentingan menjadi bersama lebih bermakna,” ujarnya, dalam keterangan pers, dikutip Senin (3/8/2026).
Menurut Henoch, capaian laba tersebut salah satunya ditopang oleh penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp 185,3 triliun. Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan di sejumlah segmen bisnis utama seperti kredit korporasi dan komersial sebesar 12,8% (yoy), kredit di segmen digital savvy melalui layanan Jenius (di luar digital micro) sebesar 9,9% (yoy), dan pembiayaan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) 8,7% (yoy). Sementara, pembiayaan Grup OTO meningkat 5,8% (yoy).
Sejalan dengan itu, SMBC Indonesia juga mencatatkan pendapatan operasional konsolidasi sebesar Rp 8,6 triliun pada semester I 2026 yang berasal dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp 7,5 triliun dan pendapatan operasional lainnya Rp 1 triliun.
Baca Juga
Bos BTN (BBTN) Ungkap Dampak Akuisisi Portofolio Kredit Pensiun SMBC Indonesia (BTPN)
Di lain sisi, biaya kredit konsolidasi SMBC Indonesia turun 14,8% (yoy) menjadi Rp 2,1 triliun, sejalan dengan penerapan manajemen risiko kredit yang cermat dan proaktif dengan menjaga tingkat pencadangan yang memadai demi menjaga kualitas portofolio.
Bank berkode saham BTPN ini, lanjut Henoch, juga terus memperkuat struktur pendanaan melalui pertumbuhan dana murah atau current account and saving account (CASA). Hingga semester I 2026, saldo CASA meningkat 37,4% menjadi Rp 60,1 triliun. Rasio CASA juga meningkat menjadi 47,5% terhadap total dana pihak ketiga (DPK) dari 39,8%, didorong pertumbuhan dana dari segmen korporasi dan komersial, usaha kecil dan menengah (UKM), serta ritel.
“Penguatan CASA merupakan bagian penting dari upaya kami untuk membangun struktur pendanaan yang semakin sehat dan efisien. Dengan likuiditas yang tetap kuat, kami memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk mendukung kebutuhan nasabah sekaligus memperkuat kapasitas perseroan dalam mengembangkan bisnis secara berkelanjutan,” katanya.
Menurut Henoch, kondisi pendanaan yang kuat tersebut turut ditopang oleh permodalan yang tetap solid. Per 30 Juni 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 30,7%.
Sebagai upaya untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang, kata dia, salah satu inisiatif yang ditempuh SMBC Indonesia pada paruh pertama tahun ini adalah pelaksanaan tahap pertama pengalihan portofolio kredit pensiun kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN). Langkah ini diambil untuk memastikan keberlangsungan layanan kepada nasabah tetap terjaga, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengalokasikan modal dan sumber daya ke area bisnis yang potensial.
Selain itu, kinerja anak usaha juga memberikan kontribusi positif terhadap kinerja konsolidasi SMBC Indonesia. BTPN Syariah mencatat laba bersih Rp 655 miliar pada semester I 2026, tumbuh 1,8% (yoy). Pembiayaan yang disalurkan BTPN Syariah mencapai Rp 11 triliun, naik 8,7% (yoy).
Sementara, Grup OTO membukukan laba bersih Rp 382 miliar pada semester I 2026, meningkat 251,8% (yoy). Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan pembiayaan sebesar 5,8% (yoy) dan biaya kredit yang rendah.
