BSI (BRIS) Raup Momentum Demam Emas, Fee Based Income Melonjak 712%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) berhasil memanfaatkan tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kinerja bisnis emas BSI melesat sepanjang semester I 2026, tercermin dari lonjakan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan peningkatan jumlah nasabah bullion.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengungkapkan, kondisi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian membuat masyarakat semakin selektif dalam memilih instrumen investasi. Dalam situasi itu, emas dinilai menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset.
“Melalui layanan bullion, kami ingin menghadirkan investasi emas yang semakin mudah, aman, dan terjangkau sehingga masyarakat dapat mulai langkah emasnya dalam membangun aset jangka panjang,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga
Ade menjelaskan, BSI telah memperdagangkan 8,06 ton emas melalui layanan bullion bank hingga Juni 2026. Jumlah nasabah bullion juga menembus 1,3 juta orang, atau melonjak sekitar 700% secara year on year (yoy). Sejalan dengan itu, fee based income dari bisnis emas melesat 712% (yoy).
Menurutnya, kemudahan akses menjadi salah satu pendorong utama peningkatan transaksi. Melalui BYOND by BSI, masyarakat dapat berinvestasi emas mulai dari Rp 50.000. Seluruh transaksi jual beli emas dapat dilakukan real time 24 jam setiap hari tanpa perlu datang ke kantor cabang.
Selain memperkuat layanan digital, lanjut Ade, bank berkode saham BRIS ini juga memperluas distribusi emas fisik melalui BSI Gold. Produk tersebut kini telah tersedia di sejumlah toko emas rekanan yang berada di sentra perdagangan emas nasional.
“Pertumbuhan bisnis bullion tidak hanya memperkuat posisi BSI sebagai bank dengan layanan ekosistem emas syariah nasional, tapi juga menjadi sumber pertumbuhan pendapatan berbasis fee yang semakin signifikan bagi perseroan,” katanya.
Baca Juga
BSI (BRIS) Perkuat Komitmen Dukung Pengembangan Ekosistem Bullion Nasional
Ade menjelaskan, kinerja bisnis emas BSI juga ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan berbasis emas. Hingga Juni 2026, outstanding pembiayaan dari produk Gadai Emas dan Cicil Emas mencapai Rp 30,5 triliun atau meningkat 80,5%.
Sementera, hingga Juli 2026, kontribusi seluruh bisnis emas telah menghasilkan fee based income sekitar Rp 2,10 triliun atau tumbuh 100% (yoy).
Ke depan, BSI optimistis prospek bisnis emas masih akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan diversifikasi investasi dan melindungi nilai aset.
“Dengan ekosistem bullion yang semakin lengkap, BSI menargetkan bisnis emas menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama sekaligus memperkuat inklusi keuangan syariah di Indonesia,” ucap Ade.
