BRI Telah Salurkan KUR Perumahan Senilai Rp 10,9 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan melalui Kredit Program Perumahan (KPP) telah mencapai sekitar Rp 10,9 triliun per 26 Juli 2026. Nilai tersebut setara 90,83% dari target penyaluran sebesar Rp12 triliun yang diberikan pemerintah kepada perseroan pada 2026.
Direktur Consumer Banking BRI, Aris Hartanto menyatakan, realisasi tersebut diyakini dapat memenuhi target yang telah ditetapkan pemerintah pada tahun ini.
"Kalau KPP Perumahan sendiri, per tanggal 26 Juli, itu sudah menyalurkan sekitar Rp 10,9 triliun dari target Rp12 triliun yang diberikan pemerintah kepada BRI. Jadi dengan angka tersebut, saya pikir target ini akan bisa dicapai ya, mudah-mudahan di tahun ini," kata Aris di Gedung BRI, Bendungan Hilir, Jakarta, Senin (27/7/2026) malam.
Aris turut menjelaskan, strategi BRI dalam menyalurkan KPP ditopang oleh jaringan kantor yang luas, basis nasabah yang besar, serta fokus perseroan pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Kalau ditanya, apa strategi BRI untuk menyalurkan KPP ini, tentu kita, pertama kita punya jaringan kantor yang banyak. Kemudian kita juga punya jumlah nasabah yang banyak. Dan yang ketiga adalah, jangan lupa BRI adalah bank UMKM, yang memang DNA-nya itu adalah melayani nasabah-nasabah UMKM," jelasnya.
Ia menambahkan, kekuatan tersebut menjadi modal BRI dalam mendukung penyaluran KPP sekaligus menyukseskan program pemerintah di sektor perumahan.
Baca Juga
Jadi Motor Utama Program 3 Juta Rumah, Pemerintah Apresiasi Kinerja BRI Salurkan KUR Perumahan
"Di situlah saya pikir posisi BRI yang sangat kuat dalam mendukung penyaluran KPP ini, dan yang lebih penting lagi adalah, bagaimana KPP ini bisa bermanfaat untuk, pertama tentunya nasabah BRI, dan kedua adalah, yang penting lagi adalah bisa men-support program pemerintah lebih luas lagi," tutur Aris.
Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengungkapkan, BRI menjadi penyalur KPP terbesar secara nasional. Per 25 Mei 2026, realisasi penyaluran KPP BRI tercatat sebesar Rp 9,2 triliun.
Ara menjelaskan, penyaluran tersebut terdiri dari sisi suplai dan permintaan. Pada sisi suplai, realisasi mencapai 752 nasabah dengan nilai Rp 1,1 triliun. Sementara pada sisi permintaan mencapai 65.576 nasabah senilai Rp 8,1 triliun atau sekitar 54% dari total realisasi nasional.
"Dari segi supply adalah 752 nasabah, Rp 1,1 triliun. Dari segi demand, ini banyak sekali, 65.576 nasabah senilai Rp 8,1 triliun atau 54% dari realisasi nasional. Jadi terbesar dari semua bank. Jadi semua bank digabung, dengan BRI sendiri, lebih banyak BRI," kata Ara beberapa waktu lalu.
Secara nasional, realisasi KPP per 25 Mei 2026 mencapai Rp16,8 triliun. Rinciannya, sisi suplai sebanyak 1.875 nasabah dengan nilai Rp 4,8 triliun dan sisi permintaan sebanyak 78.001 nasabah senilai Rp 11,99 triliun.
Ara menyebut, program KPP menyasar dua sisi, yakni suplai dan permintaan. Pada sisi suplai, program dapat diakses kontraktor, pengembang hingga toko bangunan dengan plafon maksimal Rp 10 miliar yang dapat diperpanjang hingga Rp 20 miliar dengan bunga subsidi 5%. Sementara pada sisi permintaan, program ditujukan bagi pelaku UMKM yang ingin membeli, merenovasi, atau membangun properti untuk kegiatan usaha.
Ara juga mengungkapkan kuota KPP BRI telah dinaikkan dari semula Rp 8 triliun menjadi Rp 12 triliun karena alokasi sebelumnya telah terserap penuh.
"Yang Rp 8 triliun sudah terserap semua. Sekarang sudah Rp 9,2 triliun. Jadi kalau tidak salah, di bulan April atau awal Mei ya, BRI sudah 100% melebihi daripada plafonnya yang Rp 8 triliun," tandasnya.
