Danamon Proyeksikan BI Rate Berpotensi Naik hingga 6,25% di Akhir 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki amunisi untuk memperkuat bauran kebijakan moneter demi menjaga stabilitas pasar. Salah satu langkah antisipatif yang diproyeksikan adalah kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) jika volatilitas nilai tukar rupiah kembali memanas akibat eskalasi ketidakpastian global.
Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz mengungkapkan bahwa pergerakan mata uang Garuda ke depan akan sangat didikte oleh faktor eksternal. Fokus utama pasar saat ini tertuju pada dinamika geopolitik global serta imbasnya terhadap fluktuasi harga komoditas, terutama minyak mentah dunia.
Menurut Irman, ketegangan geopolitik menjadi variabel krusial yang wajib diwaspadai. Pasalnya, lonjakan harga minyak berpotensi menekan posisi transaksi berjalan (currentaccount) Indonesia yang menyandang status sebagai negara importir minyak neto (net oil importer).
"Kita lihat transmisi dampaknya ke Indonesia itu utamanya dari oil price. Kalau harga minyak meningkat signifikan, maka sebagai negara net oil importer, current account kita berpotensi kembali melebar," ujar Irman saat ditemui usai acara Media Luncheon - HUT ke-70 Danamon di ASA Menteng, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga
Imbas Ketidakpastian Global, Bank Danamon (BDMN) Bersiap Sesuaikan RBB 2026
Meski begitu, Irman melihat situasi domestik saat ini masih jauh lebih kokoh dan terkendali dibanding periode-periode sebelumnya. Harga minyak global yang belum melonjak secara ekstrem membuat tekanan terhadap neraca perdagangan dan pergerakan rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola.
Relatif rendahnya harga minyak saat ini jika dibandingkan dengan masa awal konflik terdahulu berhasil meredam kekhawatiran pasar. Di saat yang sama, kinerja sektor eksternal Indonesia mendapat angin segar dari perbaikan harga sejumlah komoditas ekspor andalan, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO). Berkah komoditas ini sukses menyuntikkan tambahan amunisi pada cadangan devisa nasional.
Kendati fondasi eksternal cukup solid, BI dipastikan tidak akan lengang. Otoritas moneter terpantau terus aktif mengawal stabilitas rupiah lewat berbagai instrumen. Irman menilai, langkah intervensi pasar valas yang agresif oleh BI sejauh ini terbukti ampuh meredam depresiasi rupiah.
Lebih jauh, ruang untuk memperketat kebijakan moneter tetap terbuka lebar. Bank Danamon memproyeksikan adanya potensi kenaikan BI Rate hingga 50 basis poin (bps) atau setara dengan dua kali kenaikan masing-masing 25 bps hingga pengujung tahun 2026.
"Dengan asumsi volatilitas rupiah masih akan tertekan, kami melihat masih ada ruang kenaikan suku bunga acuan hingga dua kali 25 basis poin menuju level 6,25%. Namun, apabila kondisi global membaik, ruang tersebut tidak harus digunakan," kata Irman.
Baca Juga
Danamon, Prasmul, dan Manulife Luncurkan Ekosistem Perencanaan Pendidikan Anak
Irman menegaskan bahwa arah kebijakan BI akan sangat bergantung pada dinamika global (data-dependent), terutama jika muncul sentimen kejutan (shock) baru yang menekan rupiah.
Menjaga stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter. Irman menggarisbawahi pentingnya peran kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas dalam menjaga disiplin anggaran menjadi kunci utama untuk merawat kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik.
Sinyal positif sejatinya telah datang dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, yang mempertahankan peringkat kredit (credit rating) Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Namun, tantangan sesungguhnya ada pada konsistensi eksekusi kebijakan di lapangan.
Irman melihat bahwa fokus lembaga pemeringkat global kini telah bergeser, mereka tidak lagi mempertanyakan arah kebijakan Indonesia, melainkan lebih menyoroti bagaimana pemerintah memastikan implementasi kebijakan tetap berada dalam koridor yang prudent (kehati-hatian).
