Berkat Transformasi sejak 2020, BNI Kini Makin Dipercaya
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI) kini semakin dipercaya oleh nasabah dan investor. Hal itu terjadi setelah perseroan melakukan transformasi bertahap sejak tahun 2020. Pandemi Covid-9 menjadi pelajaran berharga bagi BNI untuk segera melakukan transformasi.
Hal itu disampaikan Direktur Keuangan Bank BNI,Novita Widya Anggraini dalam acara BNI Year End Executive Chief Editor Gathering 2023, di Jakarta, Rabu (20/12/2023).
“Secara bertahap trust itu semakin ada. Ini terlihat dari pertumbuhan market cap kita. Ketika kita menjalankan transformasi di awal tahun 2020, waktu itu price to book value kita di bawah 1 kali, bahkan harganya hanya 0,7-0,8 kali,” katanya.
Novita menjelaskan, transformasi BNI dimulai dengan memperbaiki fundamental dan kebutuhan permodalan. Pasalnya, pada masa Covid-19, rasio kecukupan modal atau capital eduquacy ratio (CAR) BNI menyentuh ke batas minimal yang disyaratkan oleh lembaga rating. Kala itu, permodalan BNI hanya 15% atau jauh dari standar lembaga rating.
“Tapi action dari transformasi tahap pertama yang kita lakukan kita fix the basic. Kita top up capital, kita terbitkan additional tier 1. Di mana itu menjadi satu-satunya di Indonesia sampai sekarang bahkan kita tidak perlu lagi meminta bantuan pemerintah untuk penanaman modal. Kita secara mandiri bisa menerbitkan surat berharga yang bisa membantu permodalan kita. Itu merupakan langkah transformasi pertama kita,” terang Novita.
Kemudian, langkah transformasi BNI berikutnya adalah memperbaiki underwriting process. Hal ini dilakukan setelah mengambil pelajaran dari pandemi Covid-19. Dengan adanya pandemi, BNI menjadi paham bahwa fundamental manajemen risiko menjadi fondasi utama.
“Oleh sebab itu, perbaikan terus-menerus di manajemen risiko. Kita perbaiki proses underwriting, kita perbaiki risk appetite, kita ubah target market kita untuk lebih sustain tumbuhnya. kita fokus pada diamond client. Itu kita lakukan sejak awal,” ujar Novita.
Dalam perkembangan dari tahun ke tahun, menurut Novita, terlihat bahwa segmen atau driver pertumbuhan BNI masih bertumpu pada nasabah-nasabah yang memiliki tingkat risiko rendah, dan risk appetite tetap terjaga.
Novita menjelaskan, pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2020, kualitas kredit BNI menurun. Ketika itu, tingkat kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) menyentuh 4%.
Namun setelah dilakukan perbaikan secara terus-menerus, baik itu di proses loan monitoring, underwriting termasuk juga perubahan target market, maka NPL saat ini 2,2%.
“Nanti prognosanya kita bisa jaga di 2,2%. Dengan tetap menjaga coverage ratio, yang kini coverage ratio itu adalah profisi kita itu tetap di atas 300%,” katanya.
Dengan kondisi sekarang ini, Novita menerangkan bahwa kualitas aset (asset quality) di BNI sudah bukan lagi menjadi isu. Bahkan tahun depan BNI akan lebih confident lagi untuk mengejar target-target pertumbuhan sehingga profitabilitas juga lebih sustain.
“Ultimate goal kita yang selalu kita komunikasikan kepada investor adalah kita harus bisa men-deliver tingkat ROE (Return on equity) yang best in fast, yang tentunya juga harus kita lakukan secara sustain. Itu artinya kalau di-translate di angka konsensus kita kepada market adalah di tahun 2025 kita mencapai 18% ROE dan di 2028 kita memiliki corporate plan mau men-deliver ROE yang 20%,” katanya.
Dengan ROE sebesar 20%, Novita menjelaskan bahwa investor atau pemegang saham BNI akan menerima value yang semakin sustain.
“Walaupun ini belum closing akhir tahun, tapi rasanya pertumbuhan kita akan lebih sustain. Dan kami juga akan inline dengan konsensus di market, pertumbuhan kami di kisaran 7%. Kemudian nanti profit juga kita bisa men-deliver sesuai rencana target kita tumbuh double digit. Tentunya dengan hasil atau result prognosa yang sudah di depan mata karena sudah tinggal beberapa hari lagi tutup buku,” jelasnya.
Novita optimistis pertumbuhan double digit di tahun depan dengan tetap menjaga tingkat kualitas kredit yang lebih bagus dibandingkan tahun ini. “Kalau tahun ini di kisaran 2,2% (NPL), tentunya target kita tahun depan bisa tekan sampai di bawah 2% dengan tetap menjaga coverage yang sehat,” katanya.
Produk Champion di 2024
Pada kesempatan itu, Novita juga menerangkan sejumlah produk champion di 2024 sebagai andalan BNI untuk lebih mengefisienkan cost of fund.
Di tengah kondisi cost of fund yang saat ini cukup challenging, fokus strategi BNI untuk menjadi transactional banking menjadi suatu keharusan. Sedangkan untuk menjadi transactional bank yang kuat harus didukung oleh platform digital yang bisa melayani nasabah wholesale, yang menjadi nasabah terbesar BNI, dan juga nasabah ritel sebagai cross selling atas nasabah BNI.
“Jadi kita memiliki dua champion yang akan kami launching tahun depan. Yang pertama adalah platform mobile banking. Itu pasti lebih modern, lebih bisa meng-address kebutuhan nasabah-nasabah kami. Dan tentunya juga memiliki value proposition yang lebih baik dibandingkan bank-bank pesaing,” ujarnya tanpa menyebutkan nama produk champion dimaksud.
Harapannya, dengan platform ini selain yang mobile banking juga akan memodernisasikan cash management BNI. Platform ini juga diharapkan mampu mendukung strategi BNI di tahun depan untuk mendapatkan funding rateyang lebih baik.
Selain rencana di tahun 2024, Novita juga mengungkap pada tahun 2028 BNI sudah selesai menyusun corporate strategy atau corporate plan.
Dalam mengejar target 2028 itu, BNI melibatkan anak-anak perusahaan untuk mendukung beberapa inisiatif. Contohnya BNI Sekuritas akan membantu lebih meningkatkan fee based income ratio, terutama untuk structure finance, melalui kerja sama dengan corporate segment. Kemudian, BNI Multifinance akan masuk ke dalam produk auto-learn yang saat ini belum dimiliki BNI.
“Jadi kita akan launching produk joint financing. Tentunya ini harapannya kita bisa menyasar cross selling yang lebih besar lagi. Karena selama ini kita memang belum punya produk auto-learn. Keberadaan BNI Multifinance sangat dibutuhkan di sini,” katanya.
Anak-anak perusahaan lain, seperti BNI Asset Management, BNI Life, dan BNI Venture sebagai satu kesatuan integrasi solusi yang tujuannya adalah untuk melayani nasabah BNI. “Dan ujung-ujungnya adalah secara financial performance kita bisa men-deliver apa yang sudah kita canangkan di corporate plan yakni 20% ROE di tahun 2028,” pungkas Novita.
