Biaya Berobat Terus Naik, Allianz Indonesia: Proteksi Kesehatan Kini Jadi Kebutuhan Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kenaikan biaya layanan kesehatan yang melampaui inflasi umum membuat perlindungan kesehatan semakin penting dalam perencanaan keuangan masyarakat. Allianz Indonesia menilai asuransi kesehatan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.
Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana mengungkapkan, inflasi medis Indonesia diperkirakan mencapai 17,8% pada 2026, tertinggi di Asia, berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata Asia (12,5%) dan global (11%). Kenaikan dipicu meningkatnya kasus penyakit, perkembangan teknologi medis, serta pelemahan rupiah yang mendorong harga obat naik sekitar 10%-20%.
Baca Juga
AllianzReport2026: Pasar Asuransi Indonesia Tumbuh Dua Digit di Tengah Fragmentasi Global
Tingginya inflasi medis juga tercermin dari kenaikan klaim kesehatan Allianz yang meningkat dari Rp 2,9 triliun pada 2023 menjadi Rp 3,78 triliun pada 2025. Sementara itu, biaya perawatan penyakit kritis selama periode 2020-2024 melonjak, dengan penyakit jantung naik 219%, kanker 179%, dan stroke 169%.
“Inflasi medis tinggi itu mengakibatkan perusahaan asuransi melakukan penyesuaian premi (repricing). Inflasi medis itu merupakan tantangan bagi seluruh (pelaku) industri asuransi kesehatan, jadi tidak hanya Allianz,” ujar Rina, dalam Workshop Allianz Indonesia bertajuk ‘Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis’, secara daring, dikutip Senin (13/7/2026).
Ia menyatakan, penyesuaian premi dilakukan untuk menjaga keberlanjutan manfaat perlindungan dan memenuhi ketentuan solvabilitas dari regulator. Allianz juga menawarkan berbagai opsi agar premi tetap terjangkau, seperti penyesuaian manfaat dan penerapan fitur deductible atau risiko sendiri pada produk kesehatan teranyar.
“Harapannya, dengan adanya risiko sendiri itu otomatis juga akan meningkatkan atau menekan behaviour (kebiasaan) dari nasabah untuk sedikit-sedikit melakukan rawat inap,” katanya.
Baca Juga
Tawarkan Keunggulan Ini, Allianz Life Rilis Produk Tradisional untuk Nasabah SMBC Indonesia (BTPN)
Perkembangan Teknologi Medis Bikin Biaya Kesehatan Ikut Naik
Di lain sisi, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Bayushi Eka Putra mengatakan, kemajuan teknologi medis meningkatkan peluang keselamatan pasien, tapi juga berdampak pada kenaikan biaya pengobatan.
Biaya CT scan koroner misalnya, berkisar Rp 3,5 juta hingga Rp 9 juta, sedangkan penggunaan teknologi Intravascular Ultrasound (Ivus) dan Optical Coherence Tomography (OCT) dapat mencapai Rp 30 juta hingga Rp 45 juta per tindakan.
“Teknologi medis hadir untuk menyelamatkan nyawa pasiennya. Tapi, perencanaan keuangan yang cerdas hadir untuk menyelamatkan masa depan seluruh keluarganya,” ucap Bayushi.
Menurutnya, masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan tabungan untuk menghadapi risiko kesehatan. Ia menyarankan perlindungan berlapis melalui pola hidup sehat, kepesertaan BPJS Kesehatan, serta asuransi kesehatan swasta.
Prospek Asuransi Kesehatan Masih Terbuka Lebar
Meski tantangan biaya medis terus meningkat, Allianz menilai prospek industri asuransi kesehatan masih positif seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan, yang pada akhirnya menjadi peluang bagi pertumbuhan industri.
“Karena ada BPJS Kesehatan, jadi awareness masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi kesehatan itu sudah seperti barang komoditi. Jadi tanpa ditanya pun mereka (masyarakat) sudah mengerti tentang asuransi kesehatan,” ujarnya.
Namun, Rina menyatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini memperketat persyaratan peluncuran produk asuransi kesehatan untuk memastikan hanya perusahaan dengan kondisi keuangan yang kuat yang dapat memasarkannya.
