Governance dan Manajemen Risiko Jadi Parameter Investor dalam Menempatkan Dana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kualitas manajemen risiko dan tata kelola (governance) institusi keuangan menjadi parameter penting bagi investor, terutama luar negeri, untuk menempatkan dana di portofolio. Saat ini adalah momentum yang tepat untuk membahas aspek tersebut ketika dunia internasional menyoroti kualitas tata kelola dan manajemen risiko institusi keuangan, termasuk pasar modal.
Mengingat vitalnya aspek tata kelola dan manajemen risiko itulah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menggelar Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 14 Juli 2026.
Ketua Dewan Audit (KDA) merangkap Anggota Dewan Komisioner OJKSophia Wattimena menegaskan bahwa animo terhadap praktik tata kelola dan manajemen risiko semakin besar, baik itu di lingkup perusahaan, lembaga jasa keuangan, kementerian/lembaga, maupun institusi lain. Kebutuhan pasar modal dan industri jasa keuangan akan forum yang membahas tata kelola dan manajemen risiko secara komprehensif pun semakin tinggi.
Itulah sebabnya forum semacam RGS yang digelar setiap tahun kian diminati. Pada event RGS tahun lalu, kata Sophia, peminatnya bahkan mencapai belasan ribu orang. “Pada RGS 2025, peserta yang ikut online mencapai 13 ribuan, di luar peserta yang hadir offline sekitar 600-700 orang. Tahun ini peminat pasti lebih besar, sehingga kami selenggarakan di lokasi yang dapat menampung peserta lebih banyak,“ ujar Sophia dalam diskusi dengan editor di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Sophia menyebutkan bahwa banyak aspek yang akan dibahas pada RGS 2026. Termasuk aspek governance di pasar modal yang saat ini menjadi sorotan lembaga keuangan internasional, lembaga pemeringkat, dan penyedia indeks saham seperti misalnya MSCI.
Baca Juga
Penguatan Governansi Sektor Keuangan Menuju Indonesia Emas, OJK Gelar Risk & Governance Summit 2024
Dia menegaskan bahwa tata kelola dan manajemen risiko menjadi komponen yang sangat penting dalam strategi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. “Governance yang baik dan manajemen risiko yang andal dapat meningkatkan kepercayaan investor. Bahkan hal itu menjadi salah satu parameter utama bagi investor terutama asing untuk menempatkan dana,“ kata Sophia.
RGS 2026 akan diikuti oleh para direktur kepatuhan perusahaan keuangan, komisaris independen, komite audit, dan asosiasi governance. Mengusung tema "Future-Ready Governance for Sustainable Growth and National Prosperity", RGS 2026 menghadirkan keynote speaker Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Inspirational Story oleh Menkominfo Meutya Hafid.
RGS mendatangkan pembicara internasional dan nasional yang membahas hubungan antara tata kelola, risiko, dan keberlanjutan bisnis. Adnan Rahim dari Meta bakal menekankan pentingnya integrasi pengendalian internal dan kepatuhan global dalam mendukung ekspansi digital. Sedangkan Fransisca Oei dari CIMB Niaga menyoroti peran kepatuhan dalam menjaga kepercayaan nasabah dan stabilitas neraca bank.
Pembicara lain adalah Prof Peter Verhezen (Chair of Crisis Governance, University of Antwerp), Naohiro Mouri (Chairman of Audit and Advisory Committee, United Nations Office for Project Services and GRC Professional in the Insurance Industry), serta Dennis Akkerman (Managing Director of Orbis Business School). Bankir senior yang kini menjadi Presiden Komisaris BCA, Jahja Setiaatmaja, juga akan berbicara pada sesi khusus yang membahas bagaimana governance mengiringi perkembangan bisnis dan teknologi bank KBMI 4 tersebut.
RGS 2026 yang diharapkan menjadi ajang kolaboratif bagi regulator, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan ini membahas tantangan-tantangan dan peluang tata kelola di tengah dinamika global, termasuk transformasi digital, risiko siber, serta tuntutan transparansi dan integritas.
Baca Juga
OJK Sebut Penguatan 'Governance, Risk, and Compliance' Bisa Antisipasi Berbagai Risiko
Fraud dan Pelanggaran Etika
Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dari gelaran RGS 2026. Yang utama adalah meningkatkan kontribusi peran bidang GRC dalam mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan; meningkatkan kolaborasi antara OJK dan seluruh stakeholder terkait penguatan praktik tata Kelola yang baik dan penegakan integritas di sektor jasa keuangan (SJK) untuk mendukung terwujudnya pertumbuhan SJK yang berkelanjutan; ajang sharing best practice profesi bidang GRC untuk penguatan SJK guna mendorong perekonomian nasional; serta menciptakan ekosistem tata kelola yang baik dan berintegritas di OJK dan SJK (peningkatan Indeks Integritas OJK).
Saat ini banyak perusahaan yang telah memiliki kebijakan, sistem, dan prosedur governance yang baik, namun kasus fraud dan pelanggaran etika masih terus terjadi. Nah, apakah tantangan terbesar saat ini sebenarnya terletak pada sistem, kepemimpinan, atau budaya organisasi?
Risiko saat ini semakin bersifat multidimensi—mulai dari geopolitik, perubahan iklim, hingga ancaman siber. Apakah kerangka Enterprise Risk Management (ERM) yang digunakan perusahaan Indonesia sudah cukup adaptif untuk mengantisipasi risiko-risiko tersebut, atau justru perlu paradigma baru dalam pengelolaan risiko?
Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah membangun berbagai institusi dan regulasi baru untuk memperkuat tata kelola sektor keuangan dan korporasi. Namun, kepercayaan investor tidak hanya dibangun oleh regulasi, melainkan juga oleh konsistensi implementasinya. Apakah tantangan terbesar Indonesia dalam mengubah governance dari sekadar compliance menjadi competitive advantage yang mampu meningkatkan kredibilitas nasional di mata investor global.
Itulah beberapa aspek yang akan menjadi pembahasan menarik dalam Risk and Governance 2026.
