Rupiah Tersungkur, Laba Perbankan Diprediksi Melambat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pelemahan rupiah yang sempat menembus level Rp 18.178 per dolar AS serta kenaikan suku bunga acuan diperkirakan akan menekan kinerja industri perbankan nasional sepanjang 2026. Kondisi tersebut mendorong analis memangkas proyeksi pertumbuhan laba sektor perbankan menjadi hanya 1,8% secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 4,6%.
Hal itu terungkap dalam laporan riset sektor perbankan yang diterbitkan oleh tim riset Samuel Sekuritas Indonesia pada 12 Juni 2026 bertajuk "Bad for Banks: IDR Weakness & Higher Rates". Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar, menilai lingkungan operasional perbankan memburuk signifikan sejak kuartal I-2026.
Rupiah telah melemah sekitar 9% sejak awal tahun hingga mencapai Rp 18.178 per dolar AS pada 8 Juni 2026. Pada perdagangan Jumat (12/06/2026), dolar AS sedikit melemah ke Rp 17.871. Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh memburuknya defisit kembar (twin deficits), yakni defisit fiskal dan defisit neraca pembayaran.
Baca Juga
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia membalik arah kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan dua kali. Setelah menaikkan BI-rate sebesar 50 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 menjadi 5,25%, BI kembali mengejutkan pasar dengan kenaikan darurat 25 basis poin pada 9 Juni 2026 sehingga suku bunga acuan mencapai 5,50%.
Menurut Samuel Sekuritas, kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga merupakan kabar buruk bagi industri perbankan. Pertama, biaya dana (cost of fund/CoF) berpotensi meningkat, terutama bagi bank yang bergantung pada deposito berjangka. Kedua, marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) akan terus tertekan karena kenaikan bunga simpanan berlangsung lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit. Ketiga, risiko kualitas aset meningkat seiring naiknya biaya pinjaman di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.
Pelemahan rupiah juga berpotensi memicu inflasi impor sehingga memperkuat kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Akibatnya, tekanan terhadap marjin keuntungan perbankan diperkirakan berlanjut.
“Dengan biaya dana yang meningkat, tekanan NIM yang berkelanjutan, dan kebutuhan pencadangan yang lebih tinggi, kami menurunkan proyeksi pertumbuhan laba agregat bank-bank dalam cakupan riset menjadi hanya 1,8% pada 2026,” tulis Samuel Sekuritas.
Laba Empat Bank Besar
Meski prospek memburuk, kinerja empat bank terbesar Indonesia hingga April 2026 masih menunjukkan ketahanan. Laba bersih agregat empat bank besar mencapai Rp 62,1 triliun pada empat bulan pertama 2026 atau tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Keempat bank besar yang dimaksud adalah Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia. Realisasi laba tersebut telah mencapai sekitar 37% dari proyeksi laba setahun penuh, lebih tinggi dibandingkan rata-rata empat tahun terakhir yang hanya sekitar 30% pada periode yang sama.
Namun, sejumlah indikator mulai menunjukkan tekanan. NIM gabungan empat bank besar turun 18 basis poin menjadi 5,1% akibat penurunan imbal hasil aset yang lebih besar dibandingkan perbaikan biaya dana. Di sisi lain, rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) naik menjadi 89%, level tertinggi dalam 11 bulan terakhir, karena pertumbuhan kredit sebesar 14% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 13%.
Samuel Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba perbankan akan melambat signifikan pada paruh kedua tahun ini. Pertumbuhan laba yang masih mencapai 7,5% pada periode Januari-April diperkirakan turun menjadi hanya 1,8% hingga akhir tahun karena tekanan NIM dan kenaikan biaya kredit (cost of credit/CoC).
Laporan tersebut juga mencatat bahwa BBCA dan BBRI mulai mengalami perlambatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII), sementara BMRI dan BBNI masih ditopang ekspansi neraca yang kuat.
Rekomendasi Diturunkan ke Netral
Mencermati berbagai risiko tersebut, Samuel Sekuritas menurunkan rekomendasi sektor perbankan dari sebelumnya positif menjadi netral (neutral). Meski demikian, valuasi saham-saham perbankan dinilai sudah cukup murah setelah terkoreksi dalam beberapa bulan terakhir. Sebagian besar saham bank yang masuk cakupan riset kini diperdagangkan mendekati atau bahkan di bawah dua standar deviasi historis berdasarkan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV).
Baca Juga
Sekuritas Ini Revisi Naik Rating Saham Bank Jadi Overweight, Saatnya Berburu BBCA dan BBRI?
Di antara saham perbankan, Samuel Sekuritas tetap menjagokan Bank Mandiri sebagai pilihan utama dengan target harga Rp 6.000 per saham atau potensi kenaikan sekitar 41%. Bank Mandiri dinilai memiliki fondasi paling kuat berkat pertumbuhan laba 19% dan pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar 14% pada empat bulan pertama 2026. Selain itu, pertumbuhan kredit yang mencapai 18% dan biaya kredit yang masih berada di bawah panduan manajemen memberikan ruang bagi kejutan positif pada sisa tahun ini.
Analis menambahkan, basis pendanaan murah (current account saving account/CASA) yang kuat membuat Bank Mandiri relatif lebih mampu menyerap kenaikan biaya dana dibandingkan pesaingnya. Namun demikian, risiko tetap membayangi sektor perbankan. Pelemahan rupiah yang berlanjut, kenaikan suku bunga lebih lanjut, penurunan kualitas aset, serta keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik dapat menjadi faktor yang semakin menekan profitabilitas industri perbankan nasional sepanjang 2026.

