Rupiah Bergerak Menguat, Seiring Meredanya Serangan Iran ke Israel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Posisi rupiah menguat sebesar 0,12% menjadi Rp 18.166 per dolar AS pada pukul 09.12 WIB berdasarkan data Bloomberg.
Tak hanya rupiah yang menguat pagi ini. Mayoritas mata uang di dunia juga menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,07%, penguatan juga terjadi pada ringgit Malaysia (0,31%), peso Filipina (0,08%), dan dolar Singapura (0,1%), serta baht Tailand sebesar (0,08%).
Dua mata uang yang terpantau masih melemah terhadap dolar AS yaitu yen Jepang sebesar 0,02% dan rupee India sebesar 0,81%.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Beban Pembayaran Subsidi dan Kompensasi Melambung hingga 208,2%
Penguatan sejumlah mata uang terhadap dolar terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS atau DXY. Berdasarkan data, DXY turun ke level 99,97.
Pelemahan DXY turut dipengaruhi meredanya serangan Iran terhadap Israel. Meski kondisi ini terjadi, pasar tetap mencermati risiko eskalasi baru yang mengganggu pasokan energi global.
Dikutip dari CNBC, kontrak minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 1,25% menjadi US$ 94,25 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 0,84% ke level US$91,30 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 5% setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel sebagai balasan atas operasi militer Israel di Lebanon. Serangan tersebut merupakan yang pertama sejak kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada April lalu.
Baca Juga
Rupiah Anjlok dan IHSG Jatuh 36%, Investor Repricing Risiko Indonesia?
Sementara itu data dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026.
Cadangan devisa tersebut turun dari bulan sebelumnya sebesar US$146,2 miliar. Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh maka cadangan devisa di level US$144,9 miliar itu merupakan rekor terendah baru sejak Juni 2024. Saat itu cadangan devisa di level US$140,2 miliar.
Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 itu setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Oleh sebab itu, BI menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank sentral turut meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga dengan cadangan devisa tersebut.

