Bagikan

BI dan Kemenkeu Siap Kerja Sama Stabilkan Rupiah

Poin Penting

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sepakat memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas rupiah yang pada Rabu (13/5/2026) berada di level Rp17.496 per dolar AS atau melemah 4,6% secara tahun kalender.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyiapkan tujuh langkah penguatan rupiah, mulai dari intervensi pasar valas, pembelian SBN, menjaga likuiditas perbankan, hingga pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi guna meredam tekanan eksternal seperti kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap membantu stabilisasi pasar obligasi melalui skema bond stabilization fund untuk menjaga investor asing tetap masuk ke pasar domestik, seiring mulai turunnya imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang mengindikasikan arus modal kembali masuk ke Indonesia.

JAKARTA, investortrust.id - Pada akhir perdagangan Rabu (13/5/2026), rupiah bertengger di posisi Rp 17.496 per US$ menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR. Dengan posisi ini, rupiah telah melemah sebesar 4,6% secara tahun kalender.

Bank Indonesia (BI) berharap terjadinya sinergi seluruh elemen negeri. Saat ini, BI terus melakukan intervensi ke pasar agar menahan tekanan dolar AS.

“Kami mengajak semua elemen, semua unsur negeri untuk sama-sama bersinergi, berkolaborasi untuk membantu ekonomi negara ini dengan peran kita masing-masing,” ujar Denny, saat ditemui di kompleks BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga

Rupiah Tembus Rp17.520: Sektor Pertanian Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi Nasional”

Deny melihat tekanan yang dihadapi rupiah beberapa pekan terakhir terjadi karena sejumlah faktor. Dia mengatakan dinamika global mendorong meningkatnya suku bunga di AS.

“Kalau kita lihat sekarang, US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5%. Akhir Februari masih sekitar 4%. Termasuk juga dengan kecenderungan menguatnya indeks dolar AS,” kata dia.

Faktor eksternal ini membuat sejumlah mata uang di kawasan negara berkembang Asia turut terdepresiasi. Selain rupiah, terjadi pelemahan pada peso Filipina, baht Tailan, dan rupee India, serta won Korea Selatan.

Di dalam negeri, rupiah mengalami tekanan karena adanya musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan tahunan. BI telah mengantisipasi kondisi ini dengan mengeluarkan tujuh langkah untuk menguatkan rupiah.

Baca Juga

Rupiah Dibuka Sedikit Menguat di Tengah Pengumuman MSCI

Saat di Istana Kepresidenan, Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, tujuh langkah untuk menguatkan rupiah. Antara lain memperkuat intervensi di pasar valuta asing baik domestik maupun global, penguatan arus modal masuk dengan koordinasi fiskal dan moneter, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh BI untuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar.

Selain itu ada strategi pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik, intervensi pasar offshore termasuk mengizinkan bank domestik menjual instrumen non-deliverable forward (NDF) di luar negeri, dan fokus pada peningkatan pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi.

“Jadi, yang disampaikan Pak Gubernur, kami tetap meyakini, dengan langkah-langkah yang dilakukan rupiah akan stabil dan cenderung menguat,” ujar dia.

Denny meyakini penguatan ini dapat terjadi karena fundamental ekonomi Indonesia lebih baik dari negara-negara lain.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, akan membantu upaya penguatan terhadap rupiah. Salah satunya melalui intervensi ke pasar surat berharga negara.

Purbaya menjelaskan akan menerapkan bond stabilization fund. Dia ingin menarik surat berharga negara agar investor asing tak keluar dari Indonesia.

“Kita akan jaga, stabilized bond market, membantu bank sentral, tentunya kita akan berkoordinasi dengan bank sentral juga,” kata Purbaya.

Meski belum jelas tentang mekanisme yang digunakan, Purbaya ingin terus memonitor pasar surat berharga. Termasuk, Purbaya memerintahkan jajaran untuk mengambil tindakan yang diperlukan ketika kondisi imbal hasil surat utang mengalami kenaikan.

Saat ini, Purbaya melihat investor asing sudah kembali ke Indonesia. “Asing juga masuk ke sini, bond-nya sudah mulai stabil lagi dan kita melihat ke depan seperti apa. Yang jelas, kita monitor kondisi di pasar bond sekarang,” katanya.

Berdasarkan data Investing, selama 30 April hingga 13 Mei 2026, imbal hasil SBN tenor 10 tahun mengalami penurunan -1,76%. Ini mengindikasikan terjadinya aliran modal masuk ke pasar Indonesia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024