Bagikan

BRI (BBRI) Belum Revisi Target Bisnis 2026, Optimistis Kredit Tumbuh hingga 9%

Poin Penting

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyatakan belum melihat kebutuhan untuk merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026, karena kinerja hingga Maret masih sesuai target.
BRI menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 7%–9% (yoy), dengan dukungan kondisi ekonomi domestik yang dinilai stabil, terutama dari konsumsi masyarakat dan sektor UMKM.
BRI tetap waspada terhadap ketidakpastian global dengan melakukan stress test berbasis berbagai indikator (inflasi, suku bunga, nilai tukar, hingga harga minyak), termasuk skenario tekanan jika harga minyak mencapai US$100.

JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) menyatakan, belum melihat kebutuhan untuk merevisi rencana bisnis bank (RBB) tahun 2026, meskipun dinamika global masih berlangsung.

Menurut Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu Retno, pihaknya menetapkan proyeksi pertumbuhan yang moderat untuk 2026, termasuk target pertumbuhan kredit di kisaran 7%-9% secara year on year (yoy).

“Kami lihat bahwa sampai dengan kinerja BRI di bulan Maret 2026, itu masih di jalur yang sesuai, dengan rencana bisnis yang telah kami buat sebelumnya,” ujarnya, dalam Press Conference Pemaparan Kinerja BRI Triwulan I 2026, secara daring, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga

Semangat Kartini Bersama BRI: Kisah Inspiratif Cokelatin, UMKM Lokal Menembus Pasar Global

Dari sisi fundamental, Viviana menilai kondisi ekonomi domestik masih relatif stabil. Konsumsi masyarakat dan aktivitas sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kalau kita lihat kondisi saat ini, termasuk guidance yang kami berikan, kami belum merasa adanya kebutuhan untuk melakukan revisi terhadap rencana bisnis bank,” katanya.

Walaupun begitu, lanjut Viviana, BRI tetap mencermati perkembangan global dan siap melakukan penyesuaian strategi secara adaptif apabila diperlukan.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, perseroan secara rutin melakukan stress test untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi gejolak global.

Ia menjelaskan, sejumlah parameter utama yang digunakan dalam stress test, antara lain pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga acuan (BI Rate), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun.

Baca Juga

Didorong Fundamental Solid, Manajemen BRI (BBRI) Optimistis Kinerja Saham Tetap Naik

“Parameter-parameter tersebut kita gunakan untuk men-set asumsi-asumsi ke depan. Dan sejauh ini kami expect bahwa di semester dua (2026) kondisi akan membaik, karena kami melihat harga forward di oil price sendiri sudah diekspektasikan membaik di triwulan 3 (2026),” ucap Ety.

Di lain sisi, BRI juga sudah menyiapkan skenario pesimistis melalui stress test. Di mana dalam skenario tekanan, bank berkode saham BBRI ini berupaya untuk menjaga permodalan dan likuiditas agar tetap di posisi yang memadai.

“Jadi untuk menyerap potensi tekanan yang mungkin terjadi apabila oil price (harga minyak) sampai dengan US$ 100,” ujar Ety.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024