Dorong Pergeseran Strategi Keamanan, OJK Perkuat Ketahanan Siber Industri Keuangan Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Adi Budiarso mengungkapkan, keamanan siber kini bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas industri.
Oleh karena itu, OJK terus mendorong penguatan ketahanan siber di industri keuangan digital nasional guna menjaga keberlangsungan bisnis serta kepercayaan masyarakat.
“Dalam ekosistem yang semakin terhubung, satu insiden siber tidak hanya berdampak pada satu institusi, tapi dapat memengaruhi reputasi, kepercayaan, dan stabilitas ekosistem secara keseluruhan,” ujar Adi, dalam keterangan pers, Kamis (30/4/2026).
Ia menekankan pentingnya pergeseran pendekatan dari sekadar memenuhi kepatuhan (compliance-based) menjadi ketahanan menyeluruh (resilience-based). Artinya, keamanan siber harus terintegrasi dalam strategi bisnis, tata kelola, manajemen risiko, hingga perlindungan konsumen.
“Kepercayaan adalah mata uang utama dalam ekonomi digital. Kepercayaan inovasi harus berjalan dengan kekuatan pengamanan. Tanpa keamanan siber yang memadai, inovasi justru dapat berubah menjadi sumber kerentanan baru bagi masyarakat dan industri,” kata Adi.
Baca Juga
Aftech Rilis Kajian Kebijakan untuk Dorong Harmonisasi Regulasi Aset Keuangan Digital
OJK juga mendorong para pelaku industri untuk menempatkan keamanan siber sebagai investasi strategis, bukan sekadar kewajiban. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas, kesinambungan layanan, serta meningkatkan daya saing di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital.
Selain aspek teknologi, penguatan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian utama. Industri dinilai perlu meningkatkan kompetensi, disiplin operasional, serta membangun budaya pelaporan insiden yang transparan.
Baca Juga
Sementara itu, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Slamet Aji Pamungkas menyoroti pentingnya konsep human firewall. Konsep ini menempatkan karyawan sebagai garis pertahanan pertama melalui pelatihan dan kesadaran.
“Guna mendeteksi serta mencegah ancaman siber, seperti phishing dan malware,” ucap Adi.

