Industri Multifinance Jaga Pertumbuhan Selektif di Tengah Dinamika Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Industri multifinance atau perusahaan pembiayaan tetap membidik pertumbuhan penyaluran pembiayaan pada 2026 dengan pendekatan yang lebih selektif. Langkah ini ditempuh guna memitigasi risiko gagal bayar sekaligus menjaga kualitas pembiayaan dan keberlanjutan kinerja industri.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengungkapkan, di tengah dinamika perekonomian, perusahaan pembiayaan perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan.
“Di tengah dinamika perekonomian, perusahaan pembiayaan tetap menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan dengan pendekatan yang lebih selektif dalam memilih debitur guna memitigasi risiko gagal bayar,” ujarnya, dalam jawaban tertulis, dikutip Senin (27/4/2026).
Baca Juga
“Sejalan dengan upaya menjaga kualitas pembiayaan dan keberlanjutan kinerja industri,” lanjut Agusman.
Ia menambahkan, sejumlah tantangan yang masih membayangi industri multifinance, terutama terkait kondisi ekonomi yang berpotensi mempengaruhi permintaan pembiayaan serta kualitas pembiayaan.
“Untuk itu, perusahaan perlu terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas portofolio, serta menjaga pelindungan konsumen,” kata Agusman.
Baca Juga
Perkuat Daya Saing Perusahaan Pembiayaan dan Perusahaan Modal Ventura, OJK Rilis POJK 35/2025
Sekadar informasi, piutang pembiayaan industri multifinance sebesar Rp 512,14 triliun per Februari 2026 atau tumbuh 1,01% secara year on year (yoy). Sejalan dengan itu, profil risiko perusahaan pembiayaan juga terjaga, tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) gross dan net yang berada level masing-masing 2,78% dan 0,81%.
Sementara itu, gearing ratio perusahaan pembiayaan tercatat 2,13 kali pada Februari 2026 atau berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

