Temui Seskab Teddy, Bos BTN (BBTN) Ungkap Sejumlah Pembahasan
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) Nixon LP Napitupulu mengungkapkan sejumlah pembahasan strategis usai pertemuan dengan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, belum lama ini.
Sebelumnya, Nixon bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin menyambangi Kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, Rabu lalu (22/4/2026).
Menurut Nixon, pertemuan tersebut terkait tindak lanjut program penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), khususnya di kawasan sekitar transportasi publik.
Baca Juga
Pembahasan tersebut, lanjut Nixon, merupakan kelanjutan dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke kawasan hunian di bantaran rel kereta api Senen, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan itu, pemerintah menilai kondisi hunian di kawasan tersebut tidak layak, sehingga diperlukan intervensi melalui pembangunan hunian yang lebih manusiawi.
“Dan kenapa ke Pak Setkab melapornya? Ini kan follow up hasil kunjungan Presiden pada saat di Senen kemarin. Jadi kita melaporkan ada kesepakatan berdua (dengan KAI),” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam Konferensi Pers RUPST BTN, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga
Sebagai bagian dari implementasi, pemerintah akan mengembangkan hunian di sejumlah titik strategis berbasis konsep transit oriented development (TOD), termasuk di Manggarai, Tanah Abang, serta kawasan lainnya seperti Kampung Bandan.
Untuk proyek di Manggarai, Nixon menyatakan bahwa BTN akan berperan sebagai penyedia pembiayaan, sementara pembangunan dilakukan oleh KAI melalui anak usahanya di sektor properti.
“Yang kita bangun baru delapan tower, kurang lebih 5.000 unit hunian berupa apartemen yang terjangkau,” katanya.
Ia menambahkan, proyek ini tak lagi melibatkan Perumnas karena adanya dinamika terkait lahan. Sebagai gantinya, KAI mengambil alih langsung melalui KAI Properti.
Nixon menekankan, hunian yang akan dibangun memiliki standar yang lebih layak dibandingkan apartemen subsidi pada umumnya. Luas unit dirancang di atas 40 meter persegi, bahkan berkisar 45 hingga 54 meter persegi.
“Saya selalu komplain ke para developer, kenapa sih bangun apartemen 21 meter persegi? Kasihan kan kalau punya anak mau tidur di mana? Jadi kita upayakan di atas 40 meter persegi,” ucapnya.
Dari sisi harga, BTN memastikan bahwa harga unit-unit tersebut akan jauh lebih terjangkau dibandingkan apartemen lain di Jakarta, meskipun penetapan harga tetap berada di tangan pengembang.
Minat masyarakat, kata dia, juga cukup tinggi. Terutama karena lokasinya yang terintegrasi dengan layanan transportasi umum. Stasiun Manggarai sendiri merupakan pusat pertemuan berbagai moda transportasi, mulai dari kereta rel listrik (KRL), light rail transit (LRT), hingga kereta jarak jauh.
“Ini yang menarik buat masyarakat ibu kota yang belum memiliki (rumah). Kami serius mau ngerjain ini, penyediaan rumah bagi 5.000 masyarakat yang belum memiliki rumah. Jadi nanti yang jadi market adalah orang-orang yang belum memiliki rumah di Jakarta,” ujar Nixon.
Lebih lanjut, ia menyebut konsep TOD ini akan direplikasi di berbagai kota besar lain di Indonesia, seperti Surabaya, Bandung, dan Semarang, mengikuti praktik di berbagai kota maju di dunia.
“Saya terakhir melihat di Kyoto, stasiun kereta api itu menyatu dengan hunian dan itu biasa. Jadi bukan barang baru,” kata Nixon.

