BCA Sebut Pelemahan Rupiah ke Rp 17.300 Tak Berdampak Signifikan Terhadap Portofolio Kredit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) John Kosasih memberikan tanggapan terkait kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini terus mengalami pelemahan hingga bergerak di kisaran Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat. Menurutnya, kondisi fundamental kredit BCA saat ini masih dalam posisi yang sangat terjaga meskipun tekanan terhadap mata uang domestik meningkat.
John menjelaskan bahwa strategi mitigasi risiko perusahaan didukung oleh porsi kredit valuta asing (valas) yang relatif kecil dalam struktur penyaluran kredit bank. John memerinci bahwa komposisi kredit valas saat ini tidak mendominasi total portofolio perusahaan, sehingga fluktuasi nilai tukar tidak memberikan guncangan besar bagi stabilitas keuangan bank secara keseluruhan.
"Nah, ini kalau kita perhatikan saat ini portofolio BCA terkait dengan valas itu kurang lebih sekitar 4,9 less than 5% dari total portofolio kredit ya. Jadi kecil sekali ya saat ini dan kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik. Jadi apabila terjadi pelemahan rupiah, ya tentu saja ini, tentu saja dampaknya pun juga tidak signifikan ya," ujar John Kosasih dalam acara Konferensi Pers Paparan Kinerja PT Bank Central Asia Tbk Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (23/4/2026).
Lebih lanjut, John memberikan perspektif mengenai dampak pelemahan ini terhadap kondisi para debitur. Ia menilai bahwa pengaruh pelemahan rupiah terhadap kualitas kredit bersifat variatif, tergantung pada jenis usaha yang dijalankan oleh nasabah.
Bagi para pelaku usaha di sektor orientasi ekspor, pelemahan mata uang ini justru dapat menjadi peluang di tengah tantangan ekonomi yang ada.
"Kalau seandainya mereka adalah eksportir, tentu saja dengan adanya pelemahan rupiah ini malah menguntungkan ya, karena ini jadi 17.300," tambahnya.
Baca Juga
Meski demikian, John menekankan bahwa stabilitas tetap menjadi faktor kunci yang diinginkan oleh para pelaku industri di lapangan demi kepastian bisnis jangka panjang.
"Tentu saja para pengusaha kalau ditanya, sebaiknya bagaimana? Sebaiknya kalau bisa memang stabil. Itu yang diharapkan oleh para pengusaha di lapangan," pungkas John.
Sebelumnya diberitakan, nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat di tengah gejolak pasar keuangan global. Pemerintah menyatakan terus memantau pergerakan tersebut tanpa bersikap reaktif terhadap fluktuasi harian.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan rupiah tidak terjadi secara sendiri, melainkan juga dialami oleh mata uang lain di kawasan.
“Ya kita monitor aja. Karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan bahwa faktor eksternal menjadi penyebab utama tekanan terhadap nilai tukar, seiring kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian.
“Global bergejolak, global juga kita monitor,” imbuhnya.

