Australia Prioritaskan Kerja Sama Bisnis Energi Bersih
JAKARTA, investortrust.id - Ketahanan energi dan transisi energi bersih menjadi salah satu dari empat sektor yang dijadikan prioritas oleh Australia untuk mengembangkan kerja sama bisnis dengan ASEAN. Yang lain adalah sektor pertanian dan pangan, infrastruktur, serta pendidikan.
“ASEAN menjadi kawasan tujuan utama investasi bagi Australia, sesuai Australia South East Asia Economic Strategy to 2040. Untuk itu, beberapa sektor menjadi prioritas sesuai yang disampaikan Perdana Menteri Anthony Albanese, yakni pertanian dan pangan, ketahanan energi dan transisi energi bersih, infrastruktur, serta pendidikan,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury dalam keterangan yang dirilis di Jakarta, pada Jumat (08/09/2023).
Baca Juga
Hal senada diutarakan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dalam sesi terpisah dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Ke-43 yang berlangsung di Jakarta, 5-7 September 2023. KTT ini merupakan gelaran akbar terakhir perhimpunan negara-negara di kawasan Asia Tenggara di bawah kepemimpinan Indonesia di ASEAN 2023.
Kishida menyebut, sejalan dengan ASEAN Connectivity Initiatives, Jepang akan meningkatkan konektivitas dengan negara-negara ASEAN, khususnya pada enam area yakni pembangunan green energy, infrastruktur dan transportasi, konektivitas digital, maritim, ketahanan rantai pasok, serta sumber daya manusia.
Kanada Minati Infrastruktur
Sementara Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyampaikan harapan dapat mengembangkan kerja sama inovatif yang fokus pada pembangunan sumber daya manusia, infrastruktur, manajemen laut, mitigasi dan manajemen bencana, serta renewable energy. Ia menjelaskan, program ASEAN-Canada Strategic Partnership menaikkan kegiatan ekspor impor Kanada dengan ASEAN hingga 29%, dibandingkan tahun sebelumnya.
Pahala menjelaskan lebih lanjut, business matching selama dua hari ASEAN-Indo-Pacific Forum -- dalam rangkaian KTT ASEAN -- dihadiri oleh lebih dari 185 investor nasional maupun internasional dari 129 perusahaan. Forum ini berhasil mendeteksi potensi kerja sama senilai US$ 32 miliar (sekitar Rp 490,59 triliun) untuk Indonesia dan US$ 810 juta (sekitar Rp 12,4 triliun) untuk negara-negara anggota ASEAN lainnya.
“Total proyek dalam business matching ini belum final. Meski demikian, diharapkan agenda tersebut dapat meningkatkan kerja sama dan pemahaman akan kebutuhan investasi yang diharapkan oleh seluruh negara yang bergabung dalam rangkaian agenda AIPF,” ujar Pahala.

