Investasi Pabrik Rp 2,9 T dan Produk 'Hybrid', Daihatsu Perkuat Strategi Rendah Karbon
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memperkuat komitmen menuju carbon neutral melalui investasi manufaktur berkelanjutan dan peluncuran kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. Strategi ini dijalankan lewat operasional pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 (KAP 2) serta kehadiran Rocky e-Smart Hybrid sebagai model hybrid perdana Daihatsu di pasar domestik.
Pabrik KAP 2 yang berlokasi di Karawang Timur menjadi fasilitas produksi keenam Daihatsu di Indonesia dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor. Pabrik ini mengintegrasikan proses bodi, pengecatan, dan perakitan dengan teknologi terkini.
Baca Juga
Daihatsu Cetak Penjualan 137.835 Unit, Bertahan di Posisi Dua Nasional
"Dengan investasi sekitar Rp 2,9 triliun, KAP 2 memiliki kapasitas produksi hingga 140.000 unit per tahun. Secara total, kapasitas produksi Daihatsu di Indonesia kini melampaui 530.000 unit per tahun," tulis perusahaan dalam keterangan resmi, Sabtu (24/1/2026).
Daihatsu mengeklaim pabrik ini mampu menekan emisi karbon hingga 20% melalui penerapan konsep E-SSC (evolution, simple, slim, compact). Optimalisasi energi, penggunaan panel surya, serta proses pengecatan yang minim polusi air menjadi bagian dari strategi efisiensi lingkungan.
Di sisi produk, Daihatsu juga meluncurkan Rocky e-Smart Hybrid. Mobil ini mengadopsi teknologi real series Hybrid, ketika motor listrik menjadi penggerak utama sementara mesin bensin berfungsi sebagai generator.
Rocky Hybrid dibekali mesin 1.2L dan baterai 177,6 volt dengan efisiensi bahan bakar 34,8 km per liter berdasarkan standar pengujian Jepang. Emisi karbonnya hanya 83 gram CO₂ per kilometer, menjadikannya salah satu yang terendah di kelasnya.
Baca Juga
Penjualan Daihatsu Naik 7% di Oktober, Gran Max Jadi Andalan
Kombinasi investasi pabrik dan produk rendah emisi menunjukkan pendekatan ganda Daihatsu dalam menekan jejak karbon. Upaya ini diarahkan tidak hanya pada hasil akhir kendaraan, tetapi juga pada seluruh rantai produksi.
Merek otomotif asal Jepang itu merespons komitmen industri otomotif terhadap tuntutan transisi energi dan keberlanjutan. Ke depan, investasi serupa diperkirakan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri otomotif nasional di pasar global.

