DBS Sebut Lima Tren Ini Bentuk Masa Depan Pembiayaan Berkelanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan dampak ekonomi dari bencana alam, pembiayaan berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian bumi.
Chief Sustainability Officer DBS Bank Helge Muenkel mengungkapkan, krisis alam dan krisis iklim saling berkaitan dan membawa dampak finansial yang nyata bagi dunia usaha.
“Kita perlu segera bertindak menghadapi krisis alam, karena krisis iklim tidak akan terselesaikan tanpa mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati. Dampak finansial dari krisis ini sudah terasa, mulai dari terganggunya rantai pasok hingga menurunnya hasil pertanian,” ujarnya, dalam keterangan pers, belum lama ini.
Helge menekankan, pembiayaan berkelanjutan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan bisnis dan stabilitas ekonomi jangka panjang. Menurutnya, ada lima tren utama yang akan membentuk masa depan pembiayaan berkelanjutan.
Pertama, transition finance, jembatan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Ini menjadi pendekatan penting untuk membantu perusahaan bertransisi menuju operasi rendah karbon, meskipun belum sepenuhnya hijau.
“Transition finance menjadi jembatan antara kebutuhan pembangunan saat ini dan komitmen menuju masa depan rendah karbon,” kata Helge.
Kedua, inovasi keuangan untuk transformasi iklim. Menuju net zero emission (NZE), kata Helge, membutuhkan inovasi pembiayaan. Salah satu terobosannya adalah pasar carbon credit dan transition credit yang memberikan nilai ekonomi pada upaya pengurangan emisi.
Selanjutnya, keberlanjutan adalah bisnis yang baik. Ia menilai, integrasi prinsip environmental, social, and governance (ESG) bukan hanya kewajiban moral, tapi strategi bisnis yang cerdas.
“Tidak selalu ada kompromi antara imbal hasil dan keberlanjutan,” ucap Helge.
Keempat, melindungi alam melindungi perekonomian. Lebih dari 55% produk domestik bruto (PDB) global bergantung pada alam, namun hanya segelintir perusahaan yang menyadari ketergantungan tersebut.
Helge menilai nature-based solution (NBS) seperti restorasi mangrove, rehabilitasi lahan gambut, dan proyek karbon berbasis alam dapat menjadi motor pertumbuhan baru. Indonesia dengan 20% hutan mangrove dunia, memiliki potensi besar di bidang ini.
Terakhir, kolaborasi lintas sektor untuk transisi hijau. Transisi menuju ekonomi hijau dan biru tidak bisa dicapai sendirian. DBS, kata Helge, aktif membangun kolaborasi lintas sektor, salah satunya melalui skema blended finance bersama Karian Water Services, ADB, dan IFC untuk penyediaan air bersih bagi lebih dari 2 juta penduduk Jabodetabek.
