Program Mamaku Besutan Kilang Pertamina Ubah Daerah Tertinggal Jadi Desa Mandiri
Poin Penting
|
CILACAP, Investortrust.id – Keterbatasan bukan halangan untuk mandiri. Prinsip ini diwujudkan Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui program tanggung jawab sosial “Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku)” di Kelurahan Kutawaru, Cilacap, Jawa Tengah. Program ini berhasil mengubah desa pesisir yang dahulu identik dengan kemiskinan menjadi kawasan produktif dan berdaya ekonomi tinggi.
Keterbatasan sering kali dianggap penghalang bagi kemajuan, tetapi Pjs Corporate Secretary KPI Milla Suciyani melihatnya sebagai peluang untuk memandirikan masyarakat. “Dalam setiap keterbatasan tentu ada peluang untuk memandirikan masyarakat,” ujar dia dalam keterangannya, Senin (6/11/2025).
Baca Juga
Insiden Kilang Dumai, Pertamina Pastikan Pasokan Energi Indonesia Tetap Stabil
Milla menjelaskan, setiap program CSR KPI dirancang dengan mempertimbangkan potensi lokal, pemetaan masalah, dan dukungan tokoh masyarakat. Program serupa diterapkan di Kelurahan Kutawaru, wilayah pesisir yang menjadi bagian dari ring 1 Kilang Pertamina Cilacap. “Program ini kami sebut Mamaku atau Masyarakat Mandiri Kutawaru,” kata Milla.
Lurah Kutawaru Edy Harjanto menuturkan, sebagian besar warganya dahulu bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) atau anak buah kapal (ABK) yang berlayar berbulan-bulan ke laut lepas. “Kebanyakan warga hanya sekolah sampai SMA, bahkan ada yang SMP. Ini yang membuat mereka tak punya banyak pilihan pekerjaan,” ungkap Edy.
Tekanan ekonomi dan minimnya lapangan kerja lokal menjadi masalah kronis di wilayah itu. Kutawaru memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Cilacap, tetapi terpisah oleh Sungai Donan, membuat akses darat harus memutar hingga dua setengah jam.
Social mapping dan pelatihan
Kondisi tersebut mendorong Area Manager Communication, Relations, and CSR Kilang Cilacap Cecep Supriyatna melakukan pemetaan sosial sejak 2018. Hasilnya, ditemukan banyak mantan pekerja migran dan ABK yang hidup di bawah garis ekonomi layak. “Kami menemukan banyak potensi, tetapi juga banyak masalah sosial yang harus dipecahkan bersama,” kata Cecep.
Kilang Cilacap kemudian meluncurkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) terintegrasi. Setelah proses perencanaan dan pelatihan selama 2 tahun, pada 2020 KPI resmi meluncurkan program Mamaku.
Program Mamaku dipimpin oleh Rato, putra daerah Kutawaru yang menjadi local hero dalam inisiatif ini. “Mamaku punya beberapa turunan program, seperti Kampoeng Kepiting, Bank Sampah Abhipraya, dan Pasar Amarta,” jelasnya.
Kampoeng Kepiting menjadi pusat kuliner dan wisata berbasis hasil laut. Selain restoran, di sana juga ada kegiatan budi daya kepiting, wisata susur sungai, dan area pemancingan. “Konsepnya terintegrasi, mulai dari hulu ke hilir. Semua dikelola oleh warga Kutawaru,” tambah Rato.
Baca Juga
Pertamina Pastikan 70% Kebutuhan BBM Dipenuhi Produksi Kilang Domestik
Sementara Bank Sampah Abhipraya berfokus pada pengelolaan sampah organik dan anorganik agar bernilai ekonomis. Inisiatif ini berhasil mengurangi sampah hingga 195 ton per tahun atau setara 80,93% dari total volume sampah di Kutawaru.
Program Mamaku kini menjadi motor ekonomi baru di pesisir Cilacap. Rato mengungkapkan, total omzet warga dari berbagai kegiatan usaha mencapai Rp 180 juta per bulan. “Masyarakat senang, sekarang anak-anak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya punya penghasilan tetap,” tuturnya.
Selain itu, kondisi lingkungan Kutawaru juga berubah drastis. Daerah yang dulu penuh tumpukan sampah kini lebih bersih, hijau, dan menjadi destinasi wisata lokal.

