Wamen LH Diaz: Jakarta, Semarang, dan Makassar Alami Lonjakan Indeks Perubahan Iklim
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyoroti kondisi iklim Indonesia yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut bahwa beberapa kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, dan Makassar, saat ini mengalami lonjakan indeks perubahan iklim (climate shift index) yang signifikan, berdasarkan data lembaga riset internasional Climate Central.
Pernyataan tersebut disampaikan Diaz saat menghadiri penganugerahan penghargaan kepada Prof. Dr. Emil Salim atas kontribusinya di bidang akademik dan pembangunan berkelanjutan, dalam acara Exhibition & Tribute to Prof. Emil Salim, yang menjadi puncak Dies Natalis ke-9 Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) Universitas Indonesia, Rabu (30/7/2025).
“Climate Central menyebut bahwa kota-kota di Indonesia, khususnya Jakarta, Makassar, dan Semarang, memiliki climate shift index yang lumayan tinggi. Artinya, suhu panas di kota-kota tersebut memang meningkat drastis dan ini disebabkan oleh perubahan iklim akibat ulah manusia,” jelas Diaz.
Dalam pidatonya, Diaz menegaskan bahwa perubahan iklim adalah nyata dan sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia (human-induced climate change), bukan semata-mata akibat fenomena alamiah. Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif terhadap dampaknya yang kini semakin nyata di berbagai daerah.
Selain pemanasan global, Diaz juga menaruh perhatian besar pada persoalan sampah dan limbah, yang disebutnya sebagai penyumbang besar emisi karbon ke atmosfer. Ia mencontohkan bahwa satu ton sampah padat dapat menghasilkan sekitar 50 kilogram gas metana (CH₄)—setara dengan 1,7 ton emisi CO₂.
“Sekarang bayangkan, Jakarta membuang 7.500 ton sampah setiap hari. Besok ada lagi, dan begitu terus. Totalnya sudah mencapai 1,6 miliar ton,” ungkapnya.
Menurut Diaz, emisi dari sektor lain seperti pembangkit listrik berbasis batubara, industri, dan konstruksi bangunan juga turut memperparah pemanasan global. Kenaikan suhu global yang tidak dikendalikan berisiko mencairkan es di Kutub Utara dan Greenland, dan bahkan bisa menaikkan permukaan air laut di Laut Jawa hingga 7 meter.
“Kalau naiknya lebih dari 2 derajat, seluruh gletser mencair. Laut naik 7 meter. Kalau sudah begitu, ya Indonesia bisa hilang,” tegasnya.
Diaz juga mengisahkan pengalamannya ikut serta dalam aksi bersih pantai dan sungai. Ia menemukan banyak sampah tidak masuk akal dibuang sembarangan ke alam, seperti kasur dan lemari besar.
“Saya pernah bersihkan sungai, isinya kasur dan lemari dua pintu. Ini orang yang buang mikir apa, ya?” kata dia prihatin.
Dalam forum tersebut, Diaz menyerukan pentingnya peran dunia akademik dan kampus-kampus seperti UI dalam membangun kesadaran serta mendorong riset berbasis ilmiah agar kebijakan lingkungan tidak hanya didorong oleh kepentingan politik semata.
“Kalau tidak ada masukan ilmiah, ya akhirnya yang masuk cuma politik. Nanti kebijakan bisa berubah tergantung siapa yang menelepon,” ujarnya.
Sebagai penutup, Diaz mengutip kembali sejarah filsuf-filsuf besar seperti Plato dan Aristoteles yang telah menyinggung soal deforestasi dan sifat bumi sebagai bola (spherical) sejak lebih dari 2.000 tahun lalu—menunjukkan bahwa isu lingkungan hidup bukanlah isu baru, tetapi warisan pengetahuan sejak awal peradaban.
Penghargaan untuk Emil Salim
Pada kesempatan yang sama, Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) menganugerahkan penghargaan kepada Prof. Dr. Emil Salimatas dedikasi dan kontribusinya di bidang akademik dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Penghargaan itu diberikan di acara Exhibition & Tribute to Prof. Emil Salim, yang menjadi puncak peringatan Dies Natalis ke-9 SIL UI di Jakarta.
Direktur SIL UI, Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T, menyatakan, penghargaan ini bukan sekadar simbolik, melainkan juga refleksi atas warisan intelektual dan moral yang ditinggalkan Emil Salim.
“Tanpa Prof. Emil Salim, gerakan lingkungan hidup di Indonesia tidak akan memiliki fondasi kuat seperti sekarang. Pemikiran dan keberanian beliau menjadi inspirasi dalam pengembangan ilmu lingkungan di tanah air,” kata Supriatna, dalam sambutannya di Soehana Hall, The Energy Building, Jakarta.
Menurutnya, kontribusi Emil Salim melampaui ranah akademik. “Beliau dikenal sebagai arsitek utama kebijakan lingkungan hidup nasional, sekaligus sosok yang konsisten menjembatani dunia ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kepentingan masyarakat. Kami ingin menjadikan momen ini sebagai panggung kolaborasi antarpihak untuk menjawab tantangan lingkungan hidup secara konkret dan ilmiah,” ujarnya.
Acara yang dihadiri oleh kalangan akademisi, pelaku industri, pembuat kebijakan, serta perwakilan lembaga internasional ini dirangkai dengan forum interaktif, seminar, dan pameran yang menampilkan kiprah SIL UI dalam riset dan pengembangan kebijakan lingkungan. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, turut memberikan sambutan dalam acara tersebut.
Ketua Panitia Dies Natalis SIL UI, Ir. Rudianto Rimbono mengatakan, penghargaan ini merupakan bagian dari agenda jangka panjang SIL UI dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kepemimpinan moral dan sains dalam menghadapi krisis lingkungan. “Kami berharap acara ini dapat mendorong generasi muda untuk mengikuti jejak Prof. Emil Salim, yang berani berpikir strategis, bersuara untuk kebenaran ilmiah, dan konsisten membela masa depan bumi,” ujarnya.
SIL UI, yang didirikan pada 2016, telah berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi yang banyak terlibat dalam menjawab persoalan lingkungan melalui riset terapan, kolaborasi dengan industri, dan advokasi berbasis sains. Dalam sembilan tahun terakhir, lembaga ini membangun jejaring strategis lintas sektor untuk mendukung transisi menuju pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Penghargaan kepada Emil Salim sendiri dinilai sebagai penegasan komitmen SIL UI untuk menjadikan nilai-nilai intelektual dan etika publik sebagai pijakan utama pengembangan ilmu lingkungan. Penghargaan disampaikan oleh Sekretaris SKK Migas Luky Yusgiantoro dan Direktur SIL UI, Prof. Dr. Drs. Supriatna kepada Roosdinal Rhamdani Salim, putera dari Emil Salim.

