Ilham Habibie Soroti Minimnya Stok Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
JAKARTA, investotrust.id – Ahli dan praktisi industri penerbangan, Ilham Akbar Habibie menyoroti masih minimnya ketersediaan bahan bakar pesawat terbang ramah lingkungan (sustainable aviation fuel/SAF) di dunia.
Menurut Ilham Habibie, dibanding bahan bakar fosil seperti avtur, pasokan SAF di dunia masih sangat minim, tak sampai 1%-nya. Itu pun baru dipenuhi dari lemak hewan dan minyak goreng bekas pakai alias jelantah.
Baca Juga
Soal Penggunaan Bioplastik, Ternyata Teknologi Saja Tak Akan Cukup
“Saat ini kita hanya memiliki 0,4% dari total bahan bakar penerbangan yang dipenuhi SAF, padahal kebutuhannya terus meningkat,” tutur Ilham Habibie pada acara kuliah umum Bioeconomy with TUM: Pioneering Sustainable Solutions for a Changing World di The Habibie-Ainun Library di Jakarta, Senin (09/10/2023).
Baca Juga
Ilham Habibie: Keberlanjutan Adalah Kunci Mewujudkan Indonesia Maju 2045
Acara yang digelar The Habibie Center bersama The Technical University of Munich (TUM) Campus Straubing itu menghadirkan Rektor TUM Prof Volker Sieber, Ketua Institut Demokrasi, Sains, Teknologi dan Inovasi (IDSTI) The Habibie Center Prof Eniya Listiani Dewi, serta peneliti Habibie Center Herawati. Hadir pula Managing Director TUM Asia Markus Watcher serta Duta Besar Jerman untuk Indonesia dan Timor Leste Ina Lepel.
Baca Juga
Menurut Ilham Habibie, para pemangku kepentingan (stakeholders) di industri penerbangan, terutama maskapai penerbangan dan pabrikan pesawat, harus meningkatkan penggunaan SAF untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang ditimbulkan penggunaan bahan bakar pesawat tak ramah lingkungan. Masalahnya, pasokan SAF sangat terbatas.
“Stok SAF terbatas dan bahan bakunya pun masih sangat sedikit, yaitu lemak hewan dan jelantah. Bagaimana kita bisa mendapatkan volume SAF yang lebih besar dari saat ini? Itu harus segera dicarikan solusinya,” tegas Ketua Dewan Pengawas Habibie Center tersebut.
Baca Juga
Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Energi Biomassa Limbah Pangan Terbesar di Dunia
Jerami Padi dan Rumput Laut
Menanggapi hal itu, Rektor TUM, Prof Volker Sieber mengusulkan penggunaan bahan bakar biomassa berbasis limbah makanan atau limbah pangan untuk meningkatkan volume produksi SAF. “Kuncinya adalah biomass, itu tersedia di mana-mana,” tutur Sieber.
Prof Sieber mencontohkan, jerami padi bisa digunakan sebagai sumber energi biomassa untuk SAF, mengingat dunia setiap tahunnya menghasilkan sekitar 730 juta ton jeramin padi.
Baca Juga
Profesor Ini Bilang Indonesia Sedang Mengembangkan Bahan Bakar Khusus, Apa Itu?
“Memang ini butuh effort yang lebih untuk mengumpulkannya karena produksi jerami padi relatif tersebar di berbagai wilayah dan negara,” ujar dia.
Ketua IDSTI The Habibie Center, Prof Eniya Listiani Dewi menambahkan, untuk menghasilkan SAF daribiomassa berbahan baku jerami padi diperlukanteknologi konversi yang tepat. “Selain jerami padi, kita bisa menghasilkan sumber energiberkelanjutan dari produk-produk ramah lingkungan lainnya, misalnya rumput laut,” ucap dia.(CR-3)

