Momen Ramadan 1446 H, Dompet Dhuafa Beri Apresiasi Para Pejuang Keluarga
JAKARTA, investortrust.id – Tidak semua orang bisa mendapatkan tunjangan hari raya (THR) secara pasti. Banyak pekerja lepas dan informal yang tidak mendapatkan hak tersebut, karena tidak ada keterikatan kontrak kerja secara formal. Para porter di stasiun misalnya, termasuk kelompok yang tidak otomatis mendapatkan hak tersebut.
Sebagai bentuk kepedulian pada sebagian kelompok yang tidak punya hak otomatis tersebut, Dompet Dhuafa memberikan THR kepada 50 porter Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Rabu (12/03/2025). Langkah Dompet Dhuafa ini merupakan bentuk apresiasi terhadap pekerja yang terus mencari nafkah, bahkan ketika tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Rahayu Saputro, Kemitraan Program Sosial Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa, menjelaskan bahwa program ini ditujukan bagi pekerja yang tidak memiliki hak atas tunjangan hari raya. THR ini juga sekaligus sebagai bentuk apresiasi kepada para pejuang keluarga yang tak kenal lelah mencari nafkah.
“Kami ingin memberikan apresiasi kepada para porter yang membantu pelayanan masyarakat saat mudik. Mereka tidak memiliki gaji tetap atau tunjangan hari raya, sehingga mereka juga berhak mendapatkan apresiasi seperti pekerja lainnya,” ujar Rahayu.
Baca Juga
Dompet Dhuafa Gelar Program Pemberdayaan Unggulan Selama Ramadan
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program THR Pejuang Keluarga yang rutin diberikan setiap tahun oleh Dompet Dhuafa. Mayoritas para porter di Stasiun Senen bekerja penuh selama bulan Ramadan, bahkan sampai tidak bisa berkumpul bersama keluarga di momen Idulfitri.
Para porter ini merupakan pejuang keluarga yang tidak memiliki keterikatan hubungan kerja, baik dengan PT KAI maupun instansi lainnya. Itu sebabnya mereka tidak mendapatkan THR sebagaimana suatu tunjangan wajib yang harus dibayarkan oleh pemberi kerja.
Selain THR berupa uang tunai, Dompet Dhuafa juga memberikan bingkisan kepada para porter. Program serupa juga dilakukan untuk profesi lain seperti guru mengaji, marbot, lansia, dan pekerja informal lainnya.
Wakil Kepala Stasiun Pasar Senen, Galuh, mengungkapkan bahwa sebagian besar porter saat ini dulunya adalah pedagang asongan. Sejak diberlakukannya larangan berjualan di area stasiun, mereka dialihkan menjadi porter agar tetap bisa mencari nafkah.
Baca Juga
Yayasan Indonesia Setara dan Dompet Dhuafa Kolaborasi Kelola Zakat
“Para porter memiliki peran besar dalam kelancaran pelayanan di stasiun, terutama dalam membantu penumpang membawa barang bawaan. Sehingga keberadaan porter sangat membantu,” jelas Galuh.
Salah satu porter yang menerima THR dari Dompet Dhuafa adalah Suratman (62), pria asal Kebumen, Jawa Tengah. Ia telah bekerja di Jakarta sejak tahun 1983, awalnya sebagai pedagang asongan sebelum beralih menjadi porter pada 2012. Selama 13 tahun terakhir, ia bekerja sebagai porter di Stasiun Pasar Senen dan tinggal di kontrakan bersama rekan-rekannya.
“Saya ngontrak ramai-ramai tidak jauh dari stasiun, bersama teman-teman porter juga,” kata Suratman.
Baginya, bulan Ramadan adalah momen yang membawa berkah karena jumlah penumpang meningkat pesat. Ia biasanya baru pulang ke kampung halaman sehari menjelang Idulfitri agar bisa mendapatkan lebih banyak penghasilan.
“Dulu waktu masih muda, saya sering Lebaran di Jakarta. Sekarang, sebisa mungkin saya pulang,” ungkapnya.
Baca Juga
Dari hasil kerjanya sebagai porter, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Meski pekerjaannya tidak terikat peraturan perusahaan, pendapatannya tidak menentu dan bergantung pada jumlah penumpang yang menggunakan jasanya.
“Apalagi sekarang saya sudah tidak sekuat dulu. Kalau tidak musim mudik, pelanggan lebih sedikit. Sehari kadang hanya dapat satu atau dua pelanggan,” ujarnya.
Suratman tetap bersyukur atas pekerjaannya, meski terkadang ada yang memberinya upah hanya Rp15.000 atau Rp20.000, padahal barangnya banyak. Tapi terkadang ada juga yang memberinya lebih. Namun, yang penting bagianya adalah tetap bersyukur.

