Presiden World Water Council Bujuk Bank Global Dorong Kedaulatan Air
JAKARTA, investortrust.id - Presiden World Water Council, bank global bakal meyakinkan bank global untuk meminjamkan dana ke dalam proyek daur ulang air guna mendorong kedaulatan air di negara-negara berkembang.
Mulanya, Fauchon mengatakan, dunia saat ini telah memasuki era kedaulatan air. Maka diperlukan inovasi untuk bagaimana kebutuhan air bisa tercukupi di negara berkembang.
''Itulah yang dilakukan Indonesia, dengan mengonsumsi sedikit air. Namun itu saja tidak cukup, kita membutuhkan lebih banyak (air), dan kita akan semakin banyak melakukan daur ulang air,'' katanya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Jumat (28/2/2025).
Fauchon pun mencontohkan, dua negara yang sukses dalam menjalankan proyek daur ulang air. ''Contoh, di Singapura dan Kota Barcelona di Spanyol, di mana mereka menyediakan air keran yang berasal dari (proyek) daur ulang. Ini akan menjadi revolusi abad ini menuju ketahanan air,'' ucapnya.
Sebagai informasi, Pemerintah Singapura telah melakukan pengembangan dan implementasi teknologi daur ulang air melalui program NEWater mulai 2003 silam.
Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber air eksternal dan memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat Singapura.
Diketahui, proyek NEWater pertama kali diperkenalkan pada tahun 2003 dengan pembangunan fasilitas pengolahan air di Kranji dan Bedok.
Pada tahun 2013, NEWater mampu memenuhi 30% kebutuhan air bersih nasional, dan kontribusinya meningkat hingga 40% di 2024.
Sementara itu, salah satu kota di Spanyol, yakni Barcelona telah membangun Pabrik Desalinasi Llobregat, yang mulai beroperasi pada tahun 2009, untuk mendaur ulang air.
Fasilitas ini merupakan pabrik desalinasi berbasis reverse osmosis terbesar di Eropa, dengan kapasitas produksi 60 hektometer kubik air per tahun, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi 4,5 juta orang di Provinsi Barcelona.
Sebagai gambaran, pembangunan pabrik desalinasi standar dapat menelan biaya sekitar US$ 300 juta - 2,9 miliar atau Rp 4,97 triliun - 48,08 triliun (asumsi kurs Rp 16.580/USD).
Ihwal itu, World Water Council akan meyakinkan bank global untuk memberikan suntikan dana ke proyek-proyek daur ulang air di setiap negara berkembang.
''Kami berusaha meyakinkan bank-bank utama, yang disebut bank pembangunan, seperti Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank), Bank Dunia, dan sebagainya, agar mengalokasikan 15-20% (pinjaman) dana untuk pemeliharaan dan pelatihan sumber daya manusia guna memastikan pengelolaan proyek (daur ulang air),'' tuturnya.

