Dahsyat, Kapasitas Carbon Capture Storage Indonesia Berpotensi Simpan Emisi Nasional hingga 482 Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia bakal mengandalkan carbon capture storage (CCS) untuk mencapai net zero emission (NZE) pada 2060. Bahkan Indonesia berpotensi menjadi pemain utama CCS karena memiliki potensi penyimpanan yang besar.
Vice President (VP) Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso menyebut Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan CO2 potensial mencapai 400-600 gigaton pada depleted reservoir dan saline aquifer.
"Hal ini memungkinkan penyimpanan emisi CO2 nasional selama 322 hingga 482 tahun dengan perkiraan puncak emisi 1.2 gigaton CO2 ekuivalen pada tahun 2030," ucap Fadjar di Jakarta dikutip Selasa (26/12/2023).
Baca Juga
Keren! BNI Targetkan Kurangi Emisi Karbon Operasional Lebih Cepat di 2028
Menurutnya, Indonesia juga sudah siap secara regulasi untuk menjadi pemain penting CCS. Regulasi yang sudah dibentuk antara lain Peraturan Menteri (Permen) ESDM 2/2023 tentang CCS di Industri Hulu Migas, Perpres 98/2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, dan Peraturan OJK 14/2023 tentang Perdagangan Karbon melalui IDXCarbon.
"Indonesia juga menuju penyelesaian peraturan presiden yang akan lebih memperkuat regulasi CCS," ujarnya.
Dia mengatakan peluang ekonomi bagi Indonesia melalui CCS ini sangat besar karena CCS diakui sebagai salah syarat berinvestasi untuk industri rendah karbon. Mulai dari blue ammonia, blue hydrogen, dan advanced petrochemical.
Baca Juga
Kemenko Marves Sebut Indonesia Berpotensi Jadi Hub Carbon Capture Storage
Sejumlah langkah perlu diambil pemerintah Indonesia untuk segera menegaskan posisinya sebagai pemain penting CCS. Karena Indonesia juga bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Australia, dan Timor Leste.
"Untuk itu, Indonesia berambisi mengembangkan teknologi CCS dan membentuk hub CCS. Cara ini tidak hanya akan menampung CO2 domestik tetapi juga menggali kerja sama internasional," tuturnya.

