Masih Jauh dari Target Bauran EBT 23% di 2025, Bahlil: RUPTL Tidak Didesain Komprehensif!
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebutkan ada sejumlah persoalan yang menyebabkan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional hingga saat ini masih jauh dari target yang sebesar 23% di tahun 2025.
Bahlil mengungkapkan, sekarang negara masih defisit 8,1 gigawatt (GW) untuk memenuhi target 2025 tersebut. Menurutnya, hal ini terjadi karena Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang dipakai tidak didesain secara komprehensif.
Dia mencontohkan kasus yang terjadi di Sumatera Selatan. Di wilayah tersebut sebetulnya memiliki sumber EBT sebesar 350 megawatt (MW), namun sumber EBT tersebut tidak bisa disalurkan karena tidak memiliki jaringan.
Baca Juga
“Masalahnya ini transmisi. Kalau tidak ada jaringan, sampai ayam tumbuh gigi pun siapa yang mau beli itu listrik? Ini kan cara berpikir yang, aduh saya bilang ini kacau. Jadi memang jujur RUPTL itu tidak didesain secara komprehensif, tapi parsial,” kata Bahlil di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Maka dari itu, saat ini PT PLN (Persero) bersama dengan Kementerian ESDM sedang menyusun draf RUPTL yang baru. Disampaikan oleh Bahlil bahwa dalam penyusunan ini pihaknya memperhitungkan secara detail setiap aspek.
“Sekarang di Kementerian ESDM menyusun RUPTL itu kita breakdown, berapa kapasitas yang kita butuhkan dengan pertumbuhan ekonomi? Di wilayah mana? EBT-nya di mana? di lokasinya di mana? Dan sudah ada jaringan atau belum?” jelas dia.
Bahlil menegaskan bahwa dirinya tidak mau kejadian seperti sebelumnya terulang kembali, di mana PLN sudah membangun pembangkit listrik, namun tidak memiliki infrastruktur untuk mengalirkan listriknya.
Baca Juga
“Kalau belum ada jaringannya, PLN harus lakukan investasi bangun dulu jaringannya. Jangan bangun power plant-nya dulu. Makanya PLN keuntungan kita tidak terlalu bagus karena itu bayar barang mubazir,” ucap Bahlil.
Selain persoalan transmisi jaringan yang belum dibangun dengan baik tersebut, Bahlil menyebut persoalan lainnya yang menyebabkan realisasi bauran EBT masih jauh dari target karena capex investasi untuk proyek EBT ini memang tidak murah.
“Jadi harga energi baru terbarukan itu lebih tinggi dari harga listrik dari batu bara dan fosil. Dan itu menurut saya gak salah. Karena apa? Memang capex investasinya mahal. Tapi kan kita tidak bisa menunggu itu seperti ayam dan telur mana duluan. Tujuan negara harus kita wujudkan,” terang Bahlil.

