Ketum IMA Sebut Indonesia Berpotensi Hilirisasi Tembaga di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum (Ketum) Indonesia Mining Association (IMA), Rachmat Makkasau menyampaikan, Indonesia memiliki potensi menghilirisasi komoditas selain nikel di sektor pertambangan, yakni katoda tembaga di tahun 2025 mendatang.
Hal ini seiring dengan peresmian smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik JIIPE, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (23/9/2024).
“Tembaga kita saat ini mungkin 3-4% market share di dunia, bahkan kalau (perusahaan) yang lain jalan, kita bisa punya share sekitar 7-10% di dunia. Kita punya kemampuan untuk mengontrol produk tembaga atau hilirisasi tembaga,” papar Rachmat dalam Seminar Mendiversifikasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Investasi Berkelanjutan yang diselenggarakan Kementerian Investasi/BKPM bersama Investortrust di Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (25/9/2024).
Baca Juga
Kementerian ESDM Ungkap Sulitnya Jalankan Proyek Hilirisasi Batu Bara
“Dua smelter ini kalau kapasitas full production tahun depan, contohnya di akhir Desember 2025, produksinya akan ada di sekitar 1-1,4 juta ton katoda tembaga. Sedangkan penggunaan (tembaga) di Indonesia itu hanya butuh sekitar 200 ribu ton katoda tembaga. Artinya ada peluang untuk hilirisasi tembaga,” tambah dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Presiden Jokowi telah meresmikan smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT AMNT di NTB serta smelter PT Freeport Indonesia di KEK Gresik JIIPE, Jawa Timur. Presiden mengatakan, peresmian smelter ini menjadi babak baru hilirisasi industri tembaga.
“Saya gembira karena hari ini (Indonesia) sebagai pemilik cadangan tembaga masuk ke dalam tujuh besar dunia, kita telah memasuki babak baru dalam hilirisasi industri tembaga,” kata Jokowi beberapa waktu lalu.
Baca Juga
BKPM Ungkap Tantangan Pengembangan Hilirisasi, Kualitas SDM Jadi Perhatian
Jokowi menjelaskan, gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik, yakni 56%. Kondisi itu, katanya, harus diubah dengan terus mendorong hilirisasi.
Jokowi juga menginginkan Indonesia menjadi negara industri maju dengan mengolah sumber daya alamnya sendiri. “Sehingga tadi kembali GDP growth kita tidak tergantung pada konsumsi tetapi kita balikkan menjadi tergantung pada produksi. Bertumpu pada produksi, bukan bertumpu pada konsumsi,” tegasnya.
Bahkan, mantan Wali Kota Solo tersebut berharap kebutuhan produk tembaga dunia itu akan bergantung pada Indonesia nantinya. Tak hanya lembaran katoda, tetapi juga kabel, copper foil, dan lainnya.
“Semuanya yang bisa kita produksi di sini itu akan kita lakukan, bukan lagi kita mengekspor bahan mentah atau raw material,” ucap Jokowi.
Baca Juga
Jokowi mengatakan, smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT AMNT ini dibangun dengan investasi Rp 21 triliun. Dengan investasi sebesar itu, kapasitas pengolahan smelter ini mencapai 900.000 ton per tahun dengan memproses konsentrat tembaga dari tambang Batu Hijau dan tambang Elang, serta fluks silika sebanyak 139.000 ton per tahun.
Produksi utama smelter tersebut adalah 220.000 ton katoda tembaga LME grade A dengan kemurnian 99,99% per tahun dan 830.000 ton per tahun asam sulfat dengan kemurnian 98,5%.
Fitur utama pemurnian logam mulia adalah 987 ton per tahun lumpur anoda dengan produk utama 18 ton per tahun emas batangan dengan kemurnian 99,99%, 55 ton per tahun perak batangan dengan kemurnian 99,95%, dan 77 ton per tahun selenium dengan kemurnian 99,9%.
Sedangkan untuk smelter Freeport Indonesia yang senilai Rp 56 triliun, Kepala Negara menyoroti dampak positif dari smelter tersebut bagi penerimaan negara yang diperkirakan mencapai Rp 80 triliun. Angka ini, menurut Jokowi, sangat signifikan dibandingkan jika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah.
“Hitung-hitungan saya penerimaan negara masuk kira-kira Rp 80 triliun dari PT Freeport Indonesia, baik berupa deviden, royalti, PPh badan, PPh karyawan, pajak untuk daerah, bea keluar, pajak ekspor semuanya kira-kira angkanya seperti itu. Ini angka yang sangat besar sekali,” ungkap Jokowi.
Lebih lanjut, dia menyatakan, keberadaan smelter ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk mengolah sumber daya alamnya sendiri dan mengurangi ekspor bahan mentah. Dengan smelter ini, PT Freeport Indonesia mampu memurnikan 1,7 juta ton konsentrat tembaga dari Papua. “Jumlah yang tidak kecil,” ucap Presiden.

