Airbus Pangkas Konsumsi Bahan Bakar hingga 80%
JAKARTA, investortrust.id – Airbus telah memangkas konsumsi bahan bakar hingga 80% selama 50 tahun terakhir. Pabrikan pesawat itu juga berkomitmen menekan jejak karbon.
“Kami juga berkomitmen menekan jejak karbon tak hanya dari hasil pembakaran bahan bakar di udara, namun juga seluruh siklus bahan bakar itu mulai dari produksinya," tutur President Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley dalam diskusi Fuels of the Future for Low Carbon Industry Solution dalam Rangkaian Indonesia Sustainability Forum (ISF), seperti dikutip Antara di Jakarta, Jumat (08/09/2023).
Anand mengemukakan, tantangan yang dihadapi Airbus dan perusahaan penerbangan lain saat ini dalam mewujudkan penerbangan ramah lingkungan adalah suplai bahan bakar penerbangan ramah lingkungan yang masih sangat minim.
“Pada 2030 kami berharap seluruh penerbangan dapat 100% menggunakan bahan bakar ramah lingkungan," tegas dia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut dia, Airbus berharap dapat bekerja sama dengan banyak pemangku kepentingan, khususnya di Asia-Pasifik, untuk terus berinovasi mengembangkan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan dan mengatur agar kapasitas produksi dapat memenuhi kebutuhan.
Tak Boleh Menyerah
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengungkapkan, dibutuhkan pendekatan holistik yang meliputi pemerintah, pihak swasta, investor, serta masyarakat untuk mencapai pemenuhan bahan bakar rendah karbon.
“Kita tidak boleh menyerah meskipun ada harga yang tinggi untuk menciptakan bahan bakar rendah karbon. Dengan pengembangan teknologi, ekosistem, regulasi serta kesiapan masyarakatnya, kita setidaknya bisa mengurangi tantangan ini dalam 10 tahun mendatang,” papar dia.
Di sisi lain, Sinar Mas Agribusiness & Food mendukung penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar pesawat udara yang ramah lingkungan (sustainable aviation fuel).
“Kami di Sinar Mas selalu berfokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan bahan bakar penerbangan yang ramah lingkungan, kita berharap langit bisa menjadi biru kembali,” kata Chairman Sinar Mas Agribusiness & Food, Franky Oesman Widjaja.
Franky menjelaskan, komoditas kelapa sawit adalah salah satu sumber daya alam terbesar Indonesia yang mampu menyediakan mata pencarian bagi 17 juta orang lebih, yang sebagian besar berada di pelosok perdesaan.
Selain itu, menurut dia, minyak kelapa sawit menjadi kontributor utama ekspor Indonesia yang pada 2022 mencapai sekitar US$ 40 miliar. Capaian tersebut berasal dari karakteristik minyak kelapa sawit sebagai minyak nabati paling produktif yang mampu menghasilkan 5-10 kali lebih banyak per hektare perkebunan dibandingkan minyak nabati lain yang ada.
Franky menambahkan, hanya dengan luasan 8% dari total lahan yang digunakan untuk memproduksi minyak nabati, sawit setidaknya dapat memasok 40% dari kebutuhan minyak nabati dunia saat ini.
“Artinya, kelapa sawit berperan sebagai potensi biosolusi yang dimiliki Indonesia yang juga dapat menjadi jawaban bagi kebutuhan dunia akan bahan bakar nabati rendah karbon berkelanjutan,” ujar dia.
Indonesia, kata Franky Widjaja, telah mendekarbonisasi ekonominya melalui program B35 --pencampuran minyak sawit dengan solar-- dengan target penyaluran hingga 13,15 juta kl biodiesel tahun ini.
