Dukung Pencapaian Net Zero Emission, PLN Paparkan Aneka Strategi Ini
JAKARTA, investortrust.id – Pengembangan proyek energi baru terbarukan (EBT) dinilai sebagai solusi menuju pemanfaatan energi bersih. Pengembangan EBT juga menjadi transisi menuju tercapainya target Indonesia menuju emisi nol persen pada tahun 2060. Untuk mencapai target itu, PLN telah menetapkan sejumlah strategi penurunan emisi hingga tahun 2060.
Hal itu disampaikan VP Pengembangan dan Pengendalian Aneka EBT PLN, Ir. Faisol Ketika menjadi pembicara pada acara webinar yang bertema Urgensi Penggunaan Listrik dengan Transisi Energi dari Fosil ke Energi Baru Terbarukan yang diselenggarakan oleh Chakra Giri Energi Indonesia, Selasa (31/10/2023).
Faisol menambahkan, untuk mencapai target net zero emission pada 2060, PLN telah menempul sejumlah inisatif seperti tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Sejumlah langkah ditempuh dalam rangka dekarbonisasi melalui penghentian pembangkit listrik berbasis fosil sekaligus mendorong pengembangan EBT.
“Terdapat pembatalan 13,3 GW PLTU baru, pembatalan PPA 1,3 GW PLTU, mengganti 1,1 GW PLTU dengan pembangkit EBT sebesar 1,2 miliar ton co2, mengganti 800 MW PLTU dengan pembankit gas (0,1 miliar ton co2), co-firing biomassa co2, implementasi karbon di 26 PLTU, dan merencanakan dan Pembangunan 26 pembangkit EBT,” ujar Faisol.
Baca Juga
PLN Canangkan 100% Kendaraan Listrik di Operasional pada 2024
Berbagai program tersebut bertujuan menekan biaya operasional sekaligus menjaga kesehatan finansial PLN. Sementara itu, dalam upaya mendukung target net zero pada tahun 2060, PLN berupaya menyeimbangkan 3 poin utama, yaitu keandalan pasokan listrik, harga terjangkau, dan keberlanjutan lingkungan.
“Hampir seluruh Perusahaan saat ini tidak hanya berfokus pada profit, tetapi juga pada planet. Jadi ada profit, ada people, ada planet,” kata Faisol.
Seiring dengan perkembangan teknologi, Faisol berharap, produksi energi renewable yang dihasilkan bisa ditawarkan dengan harga yang besaing disbanding enegi fosil. Dengan harga terjangkau, produksi listrik dari energi terbarukan bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat, sekaligus ikut berpartisipasi menjaga bumi.
”Harga renewable cenderung lebih mahal, karena fosil tidak menperhitungkan kerugian ekologi. Masyarakat hanya merasakan hasil akhir, renewable lebih mahal tetapi PLN melakukan upaya agar harga bisa dijangkau masyarakat dapat affordable dan seharga fossil saat ini,” tambah Faisol.
Baca Juga
Berkat Teknologi Co-firing, PLN Turunkan Emisi Karbon hingga 717.616 Ton CO2
Sesuai skenario Accelerated RE Development yang diusung, PLN berencana meningkatkan kapasitas EBT di luar RUPTL paling hijau yang menambah 75% kapasitas EBT.
“Pada RUPTL 2021-2030 masih ada pembangkit thermal sebesar 48%, tetapi porsi EBT lebih tinggi yaitu 52%. Apabila menggunakan alternatif 3 (Accelerated RE Development), maka pembangkit EBT akan naik sebesar 75% dan 25%nya kita masuk di pembangkit gas,” terang Faisol.
PLN telah menempuh sejumlah Langkah dalam rangka menurunkan emisi CO2 untuk mendukung net zero di tahun 2060. Antara tahun 2020 sampai dengan tahun 2030, porsi penggunaan energi batu bara masih cukup tinggi. Hal ini terjadi karena beberapa projek PLTU masih berjalan karena kontraknya telah disepakati sebelum Paris Agreement diratifikasi. “Kontrak harus tetap berjalan karena adanya kesepakatan yang apabila dilanggar akan terjadi permasalahan legal,” tutur Faisol.
Meski demikian, antara tahun 2040 hingga 2050, penggunaan batu bara akan terus berkurang menjadi 0.48 (2040) dan 0.21 (2050). Pada tahun tahun 2060 target 0% diharapkan tercapai karena penggunaan pembangkit renewable. (CR-4)
Baca Juga

