Kadin: 26% Investor Global Jadikan ESG sebagai Navigasi Investasi
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut bahwa 26% investor global memperhatikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) sebagai navigasi investasinya.
“Data yang dilansir Harvard Law School of Corporate Governance 2022 menunjukkan, sebanyak 26% investor global mengamini bahwa ESG adalah inti dari pendekatan dan keputusan investasi mereka,” ujar Wakil Ketua Koordinator Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Shinta W Kamdani pada pembukaan Road to Sustainable Reaction for the Future Economy (SAFE) di Main Hall Gedung BEI, Senin (22/7/2024).
Secara keseluruhan hal tersebut membuat proporsi penggunaan ESG global periode 2022 menjadi 89%, naik dari 84% pada 2021.
Shinta menegaskan, prinsip keberlanjutan (sustainability) telah menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh dunia, terutama dalam era perubahan iklim yang semakin nyata.
Baca Juga
Bos Pengusaha Mamin Angkat Bicara soal Isu Kandungan Berbahaya di Roti Aoka
Pasalnya, World Economic Forum juga mendeklarasikan bahwa ESG menjadi indikator fundamental di mana matriks lingkungan, sosial, dan tatap rola telah menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investor, karyawan, dan konsumen.
“Karena itu perusahaan mau tidak mau perlu beradaptasi cepat di tengah tuntutan untuk mengedepankan transparansi dan pengungkapan ESG,” tegas Shinta.
Terkhusus, bagi perusahaan-perusahaan yang dianggap sebagai pemimpin pasar atau memiliki jumlah saham publik yang dominan.
Isu perubahan iklim yang kian menggaung turut semakin mendorong akselerasi implementasi ESG yang membutuhkan aksi kolektif pemerintah, masyarakat, serta sektor bisnis dalam mendorong tujuan net zero emission.
Baca Juga
Konsisten pada Aspek Sustainability, ESG Risk Rating BRI Capai Level Terbaik
“Belum lagi peningkatan social awareness yang membuat isu semakin mendorong keputusan namanya ESG investing,” ujar dia di acara bertema Strengthening ESG Implementation in Indonesia Business Sector tersebut.
Namun Shinta menemukan masih ada kebingungan di tingkat pengusaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terkait kriteria ESG.
“Masih banyak pelaku usaha juga yang belum mengerti. Apa itu ESG? ESG dan SDG’s itu bedanya apa? Jadi masih banyak mungkin perlu klarifikasi daripada semua anonim dan apa sebenarnya dampaknya kepada pelaku usaha,” ujarnya. (CR-10)

