Wadirut Bank Mandiri Dorong RI Optimalkan Pajak Karbon
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Alexandra Askandar, mendorong agar Indonesia mengoptimalkan penerapan pajak karbon sebagai insentif bagi pelaku industri yang komitmen mengucurkan pembiayaan iklim. Menurutnya pajak karbon menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan Indonesia untuk dapat mewujudkan net zero emissions (NZE).
Mulanya wakil dirut emiten perbankan dengan kode saham BMRI itu mengungkap adanya tantangan yang dihadapi Bank Mandiri dalam mendukung target Indonesia menuju ekonomi rendah karbon, khususnya dalam mempromosikan investasi iklim. Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah menyeimbangkan antara peluang dan kepatuhan regulasi dalam pembiayaan iklim.
"Di mana investasi iklim seringkali dianggap mahal meskipun manfaat jangka panjangnya nyata," kata Alexandra saat menghadiri media lunch di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Baca Juga
Bank Mandiri Fokus Dorong Transformasi Digital Lewat Super Apps
Menurutnya tidak seluruh pemangku kepentingan menganggap hal itu sebagai prioritas, karena kepentingan bisnis tetap menjadi perhatian utama bagi pelaku industri dan juga bank komersial. Ia berujar akibatnya saat ini inisiatif iklim di Indonesia sebagian besar masih bersifat sukarela.
Bos BMRI itu mengatakan salah satu dukungan yang dibutuhkan adalah kebijakan kuat sebagai pemicu utama untuk mendorong pembiayaan iklim.
"Penting untuk membuat perihal ini lebih menarik bagi semua pihak melalui mekanisme insentif dan pengurangan biaya untuk mendorong semua pihak bergerak menuju praktik bisnis yang lebih hijau, seperti insentif proyek hijau atau pajak karbon," ujarnya.
Sebagai salah satu key drivers, ia melihat mekanisme pajak karbon dapat menjadi dukungan untuk meningkatkan permintaan pembiayaan hijau. Lebih jauh mekanisme ini memberikan konsekuensi finansial tertentu bagi sektor usaha yang menghasilkan emisi tinggi dan insentif bagi bisnis yang beralih menuju praktik berkelanjutan.
"Sinergi antara penetapan pajak karbon dan pembiayaan hijau memainkan peran penting untuk mempercepat transisi global menuju ekonomi rendah karbon.” sebutnya.
Ia mencontohkan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Singapura, memperkenalkan pajak karbon pada tahun 2019 dan memiliki berbagai kebijakan serta insentif terkait Green Investment. Ia mengungkap Singapura telah menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik, dengan porsi investasi hijau yang relatif besar di Asia Tenggara atau lebih dari 20% total investasi hijau di antara tahun 2020 sampai dengan 2023.
Baca Juga
Perkuat Armada, Batavia Trans (BPTR) Raih Kredit Rp 470 Miliar dari Bank Mandiri
Di Indonesia sendiri, meskipun kebijakan pajak karbon masih dalam tahap pengembangan, ia optimistis proyeksi ke depan akan tetap baik. Diungkapnya regulator telah melakukan uji coba Sistem Perdagangan Emisi (ETS) di Sektor Energi dan memulai perdagangan karbon di bursa karbon pada tahun 2023.
Sekali lagi, menyeimbangkan antara peluang dan kepatuhan regulasi adalah hal yang krusial, kami percaya bahwa beralih dari partisipasi voluntary menjadi mandatory dapat meningkatkan dampak kolektif kami dan memperkuat upaya keberlanjutan kami.” tuturnya.
Komitmen Bank Mandiri terhadap ESG
Sementara itu Bank Mandiri terus menunjukkan komitmennya dalam memimpin inisiatif keberlanjutan, mempercepat kesadaran dan aksi ramah lingkungan, serta mempromosikan pemberdayaan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (“DEI”). Di bawah kepemimpinan Alexandra Askandar, sebagai wakil Direktur Utama, perseroan berkomitmen untuk terus menggalakkan implementasi Environmental, Social and Governance (ESG).
"Perseroan berkontribusi tidak hanya mendorong pertumbuhan finansial, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat," tuturnya.
Sebagai Green Market Leader dengan pangsa pasar lebih dari 30% di Indonesia, Bank Mandiri telah menyalurkan Sustainable Financing sebesar Rp264 triliun hingga bulan Maret 2024, dengan porsi pembiayaan hijau Rp 130 triliun yang meningkat sebesar 19% dibandingkan tahun sebelumnya, didominasi oleh sektor energi terbarukan, pengelolaan SDA Hayati & penggunaan lahan berkelanjutan, serta bangunan ramah lingkungan.
Mengusung visi “Becoming Indonesia's Sustainability Champion for a Better Future”, strategi ESG Bank Mandiri terdiri dari tiga pilar, yaitu Sustainable Banking, Sustainable Operation, dan Sustainability beyond banking , dengan delapan inisiatif utama dalam framework keberlanjutan. Pada tahun 2022, Bank Mandiri mendirikan unit ESG di bawah pengawasan Alexandra yang berfungsi sebagai control tower untuk memastikan implementasi aspek ESG ke dalam bisnis dan operasional.
"Tujuan utama Perseroan adalah memastikan inisiatif ESG dapat diimplementasikan juga untuk nasabah sambil menyeimbangkan risiko dan peluang secara efektif," tandasnya.

