Magalarva, Mengolah Sampah dan Meraup Cuan dari Lalat
BOGOR, investortrust.id - Bagi sebagian orang lalat adalah serangga yang jorok dan menjijikkan. Tapi, bagi Rendria Labde, Founder dan CEO dari Magalarva, lalat bisa menyelesaikan persoalan sampah organik, yang kemudian menjadi potensi bisnis dan dapat menghasilkan keuntungan atau cuan.
Namun demikian, tentu tidak sembarang lalat dapat dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan tersebut, ada satu lalat yang disebut dengan hermetia illucens atau yang dikenal dengan nama black soldier fly (BSF).
BSF merupakan jenis larva atau maggot yang efektif dalam menghancurkan sampah organik, yang lebih efisien dari pada cara pengomposan.
Berangkat dari tujuan awal ingin mengolah limbah dan merasa resah dengan banyaknya sampah yang tidak dikelola. Rendria Labde pun mendirikan Magalarva. Rendria mengaku memiliki kepedulian pada sampah dan punya semangat untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai.
Baca Juga
Untuk diketahui, Magalarva merupakan perusahaan rintisan atau startup yang menjadikan sampah organik atau sisa makanan menjadi hal yang bernilai. Ia memiliki misi mendorong pendekatan berkelanjutan dalam menghilangkan limbah makanan sambil menerapkan praktik berkelanjutan dalam industri pakan ternak.
"Pada 2018 saya punya mimpi bisa mengelola sampah. Ini kayaknya bisa menyelesaikan banyak masalah," ujar Rendria saat ditemui di Kantor Magalarva, Pabuaran, Gunung Sindur, Bogor dalam acara Kunjungan Wirausaha Sosial bersama PT Bank DBS Indonesia pada Rabu (10/7/2024).
Rendria menjelaskan, dari sampah organik yang dikumpulkan dari berbagai wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) dan sebagian besar berasal dari hotel, restoran, dan beberapa pabrik, diolah menjadi makanan bagi maggot, agar dapat tumbuh besar dan banyak.
Lebih lanjut, Rendria menyebut, maggot ini nantinya dapat dijual kembali, salah satunya untuk pakan ternak unggas, dan lainnya, dengan harga sekitar Rp 45.000 per kilogram. Dengan demikian, ia bisa mendapatkan keuntungan sekaligus mengatasi persoalan sampah yang tidak ada habisnya.
Selain itu, Magalarva juga memproduksi minyak serangga dan pupuk organik, serta mengembangkan produk turunan BSF lainnya seperti kitin.
Baca Juga
Awalnya Magalarva hanya mampu mengelola sampah sebesar 50 kilogram per hari. Seiring berjalan waktu, kapasitas pengolahan sampahnya bertumbuh hingga mampu mengolah sekitar 9 hingga 10 ton sampah per hari.
Maggot yang dihasilkan Magalarva juga terus meningkat hingga mencapai 1 ton per hari.
Tidak hanya itu, lahan untuk mengelola sampah dan mengembangbiakan maggot pun semakin bertambah.
"Dulu kita meminjam lahan teman, terus kita bangun (fasilitas pengolahan) berukuran kecil sebesar tenda," ungkap Rendria.
Pada bulan ini atau Juli 2024, Magalarva fokus melakukan ekspansi dengan mengekspor maggot ke berbagai negara. Pasar ekspor Magalarva menjangkau Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.
Baca Juga
DBS Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo - Gibran
Sebagai tambahan informasi, Magalarva merupakan salah satu perusahaan yang mendapatkan bantuan dari PT Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation dengan kucuran dana hibah sebesar Sing$ 200.000.
Melalui pemberian dana hibah DBS Foundation Business for Impact Grant Award Programme, Bank DBS Indonesia mendukung misi pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

