Pertamina Ungkap Perkembangan Akuisisi Perusahaan Bioetanol dan Gula Brasil
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia melalui PT Pertamina (Persero) sedang dalam proses mengakuisisi perusahaan produsen bioetanol dan gula asal Brasil.
Head of CCUS Development Program Pertamina New & Renewable Energy, Bayu Prabowo mengungkapkan, saat ini proses akuisisi sedang dalam tahap assessment atau penilaian.
“Assessment kelayakan bisnisnya. Karena ini kan investasi yang tidak kecil dan Pertamina adalah perwakilan negara ya. Jadi kita tidak bisa salah memakai bujet kita gitu ya,” kata Bayu Prabowo saat ditemui dalam acara Green Economy Expo yang diselenggarakan Bappenas di Jakarta Convention Center, Kamis (4/7/2024).
Bayu menerangkan bahwa proses assessment ini dilakukan sedetail-detailnya agar semua tahapan akuisisi dilakukan dengan benar dan proper. Adapun targetnya pada kuartal empat (Q4) diharapkan Pertamina sudah bisa membuat keputusan.
Baca Juga
ESDM Ungkap Hanya Ada 2 BU Produsen Bioetanol yang Penuhi Kriteria sebagai Fuel Grade
“Semua ada target, diatur oleh seller sana ya. Jadi kalau nanya target, ini bukan keputusan Pertamina tapi digariskan dari seller-nya sana. Paling tidak Q4 ini sudah ada keputusan lanjut atau tidaknya,” terang Bayu.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, akuisisi tersebut sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan market di dalam negeri. Sebab, dengan mengakuisisi perusahaan Brasil tersebut, maka nantinya penggunaan bioetanol bisa lebih luas lagi.
“Saya terjemahkan itu sebagai langkah sementara supaya kita bisa jalan, supaya market-nya bisa tumbuh di dalam negeri,” kata Dadan Kusdiana saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Jakarta, Jumat (14/6/2024).
Baca Juga
Bioetanol Mau Gantikan Pertalite? Ini Respons Pengamat Energi
Kendati demikian, Dadan mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya ingin agar produksi bioetanol sejak dari awal ditanam, diproses, dan dimanfaatkan di Indonesia semuanya. Sebab, hal itu akan berdampak pada pengurangan emisi karbon yang lebih masif lagi.
“Karena kalau dari luar datangnya, ketika dibakar, emisinya ada di sini, tapi pengurangan emisinya ada di sana. Kan pengurangan emisinya terjadi pada saat tebu itu tumbuh, pada saat pohon itu tumbuh, itu menyerap CO2, tapi pas dipakainya di sini, di sini dibakar, CO2 keluar di sini,” papar dia.

