Transparansi & Penurunan Emisi Korporasi Terbaik 2024, Dorong Pengurangan Emisi Karbon
JAKARTA, Investortrust.id - Bumi makin panas. Pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat 115 stasiun menunjukkan, rata-rata suhu udara selama April 2024 sebesar 27,74 derajad C. Selama Januari-April, suhu rata-rata 27,44 derajad C. Di sejumlah wilayah suhu udara di atas 37 derajad C. Pada 23 April 2024, suhu udara di Palu 37,8 derajad C. Pada 21 April, suhu di Medan 37,0° derajad C. Suhu di Surabaya 29,8 derajad C dan di Tanjung Priok 29,7 derajad C.
Selama Mei 2024, suhu rata-rata permukaan bumi berkisar 24-28°C. Di sejumlah wilayah temperatur mencapai 37 derajad Celsius seperti pada bulan April. Menurut BMKG hari ini, 19% wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau. Sebagian besar wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara segera memasuki musim kemarau dalam tiga dasarian atau 30 hari ke depan. Musim kemarau akan mendominasi wilayah Indonesia sampai akhir bulan September.
Dalam 144 tahun terakhir, suhu bumi menunjukkan peningkatan. Menurut perhitungan ilmuwan Goddard Institute for Space Studies (GISS) National Aeronautics and Space Administration (NASA), sejak 1880, suhu bumi rata-rata naik 1,1 derajad Celsius atau sekitar 0,15 hingga 0,20 derajad C per dekade.
Tahun 2023 Tahun Terpanas
Pemanasan global sudah lama dicermati dan secara sistematis PBB. Dimulai dari pertemuan Stockholm, 1972. Pada Konferensi tentang Lingkungan Hidup Manusia, perwakilan dari negara anggota PBB untuk pertama kalinya membahas situasi lingkungan hidup secara global.
Pembahasan isu ini dilanjurkan di Rio de Janeiro, 1992. Pada Konferensi Bumi yang diadakan PBB terbentuk konvensi kerja yang disebut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Tujuan utama UNFCCC adalah menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga berada di tingkat aman.
Kemudian pertemuan Kyoto, 1997. UNFCCC mengatur ketentuan stabilitas konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dalam Protokol Kyoto. Protokol yang disahkan 11 Desember 1997 mulai diberlakukan 16 Februari 2005. Periode komitmen pertama dimulai pada tahun 2008 dan berakhir pada tahun 2012, saat 38 negara industri dan masyarakat Eropa dituntut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar rata-rata 5% di bawah tingkat emisi di tahun 1990.
Pada periode komitmen kedua, 2013-2020, target pengurangan emisi sebesar 18% di bawah tingkat emisi tahun 1990. Meski Protokol Kyoto cukup sukses, emisi karbon global ternyata meningkat signifikan.
Pada 12 Desember 2015, dalam lanjutan Protokol Kyoto, 195 utusan dari berbagai negara menyepakati perjanjian iklim global yang dikenal dengan Perjanjian Paris (Paris Agreement). Perjanjian Paris sepenuhnya bersifat sukarela. Negara-negara tersebut berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan memastikan suhu global tidak naik lebih dari 2 derajad C dan menjaga kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5 derajad C. Perjanjian Paris ini mulai berlaku efektif pada 4 November 2016.
Pada 2000, PBB meluncurkan MDGs dan kemudian dilanjutkan dengan SDGs, 2015. PBB meluncurkan SDGs karena banyak target yang belum diraih.
Ada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dielaborasi dalam ESG: 5 environmental, 8 social, dan 4 governance. Tagline pun bertambah: Jika MDGs: planet, people, and profit. Pada SGDs: planet, people, profit, peace, and partneship.
Semua negara berusaha menurunkan emisi karbon dan bergerak menuju net zero emission 2060. Ada yang menargekan 2050, lebih awal, agar pada pada 2060, semua sudah beres: bumi bersih 100% dari emisi karbon!
Indonesia ikut aktif dalam perjuangan menuju net zero emission. Mewakili Presiden Jokowi, Jumat, 22 April 2016, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menandatangani Paris Agreement/Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim pada Upacara Tingkat Tinggi Penandatanganan Perjanjian Paris (high-level Signature Ceremony for the Paris Agreement) di Markas Besar PBB, New York.
Selain menandatangani Paris Agreement, komitmen Indonesia dalam ikut mengendalikan perubahan iklim global tercermin pada ratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change. Selanjutnya, Indonesia menyatakan komitmen menurunkan emısi karbon lewat dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) pada November 2016. Dalam NDC, Indonesia menetapkan target penurunan emisi dengan upaya sendiri atau tanpa syarat, business as usual (BAU), pada tahun 2030 sebesar 29% dan 41% jika ada bantuan internasional.
Indonesia kemudian menaikkan target penurunan emisi karbon dari 29% ke 31,89% dengan kekuatan sendiri dan dari 41% ke 43,2% dengan bantuan internasional. Perubahan itu disampaikan lewat dokumen Enhanced Nationally Determined Contributions (NDCs). Para pengamat menilai, target ini masih terlalu rendah untuk ikut mencegah kenaikan suhu global 1,5 derajad C.
Energi bersih dan ekonomi hijau sudah menjadi kesadaran publik dunia, terutama Gen Z dan milenal atau Zilenial. Produk dan layanan ramah lingkungan menjadi pilihan utama konsumen dunia.
Energi fosil perlahan beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT). Kendaraan fosil beralih ke electric vehicle (EV). Semua serba green and clean. Ekonomi yang eksploitatif beralih ke ekonomi sirkülar yang ramah lingkungan.
Di bidang investasi, korporasi yang memiliki nilai tinggi akan mendapat apresiasi tinggi dari investor. Emiten dengan skor tinggi dalam mewujudkan energi bersih akan menjadi prioritas manajer investasi dunia untuk portofolio Investasi mereka.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebuah saham emiten sektor energi melesat tinggi hingga market cap menembus Rp 1.500 triliun. Lonjakan harga saham ini terjadi setelah manajer investasi memasukkan saham tersebut ke dalam dua produk reksa dana, exchange traded fund (ETF). Dua produk ETF itu masuk The S&P Global Clean Energy Index dan The MSCI Global Environment Indexes.
Pada 26 September 2023, Presiden Jokowi meresmikan Bursa Karbon Indonesia yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa karbon merupakan kontribusi nyata Indonesia dalam berjuang bersama dunia melawan pemanasan global. Dengan potensi karbon yang besar, Presiden optimistis, Indonesia bakal menjadi poros karbon dunia dengan tetap konsisten membangun dan menjaga ekosistem karbon di dalam negeri.
Bursa Karbon di BEI memang masih sepi pembeli. Tidak banyak pembeli, yakni korporasi dengan emisi karbon melebihi patokan yang ditetapkan pemerintah. Namun memang dibutuhkan waktu, karena di negara maju, bursa karbon membutuhkan waktu 15 tahun untuk bisa aktif.
Ajang “Transparansi & Penurunan Emisi Korporasio Terbaik 2024 yang diselenggarakan oleh Investortrust.id dan Bumi Global Karbon merupakan kolaborasi yang bertujuan memacu korporasi Indonesia mengurangi emısi karbon, mewujudkan green energy dan ekonomi hijau.

