KLHK Klaim Sudah 5 Tahun RI Tak ‘Ekspor’ Asap akibat Karhutla
JAKARTA, Investortrust.id - Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Laksmi Dhewanthi mengklaim selama 5 tahun terakhir Indonesia tidak dituding sebagai 'pengekspor' asap ke negara lain. Hal itu menurutnya dikarenakan jumlah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang menurun signifikan.
"Jadi itu turun terus (kebakaran hutan), dan alhamulillah kalau dulu Indonesia seringkali dituduh atau diolok mengekspor asap. Ini sudah 5 tahun terakhir enggak ada," ucap Laksmi pada acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “ESG di Persimpangan Jalan?" yang digelar di kantor redaksi Investortrust, The Convergence Indonesia, Kuningan, Jakarta, Jumat, (24/11/2023).
Meskipun pada 2023 terjadi perubahan iklim akibat pengaruh El Nino yang mengakibatkan rata-rata suhu panas sangat tinggi, namun Laksmi menyebutkan kenaikan suhu saat ini memang meningkat dibandingkan 2022, namun tetap lebih rendah dibanding yang terjadi pada 2019.
Baca Juga
BRI Dahulukan Penerapan Governance dalam Strategi ESG, Ini Alasannya
"Tahun ini memang karena kita mengalami pengaruh El Nino kuat sehingga suhu rata-rata atau panasnya itu hampir sama dengan 2019. Jadi kalau dibandingkan dengan 2022 mungkin akan naik sedikit, tapi masih jauh lebih kurang dari 2019," terang Laksmi.
Hutan Heterogen di Sumatera Utara yang masih terjaga mulai terhimpit oleh perluasan peerkebunan sawit. Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Laksmi Dhewanthi mengatakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kebakaran hutan di Indonesia menurun drastis. Hal ini diungkapkan pada acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “ESG di Persimpangan Jalan?" yang digelar di kantor redaksi Investortrust, The Convergence Indonesia, Kuningan, Jakarta, Jumat, (24/11/2023). Foto: Investortrust/ Elsid Arendra.
Bahkan, Laksmi mengungkapkan, pada saat terjadi puncak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Oktober dan awal November 2023 tidak menyebabkan asap yang menyebar hingga negara tetangga. Ia mengatakan, hal tersebut dikarenakan adanya sejumlah usaha yang dilakukan pemerintah.
Baca Juga
"Bahkan ketika kita terjadi puncak kebakaran di bulan Oktober sama awal November, itu kita lihat dari waktu ke waktu apakah asap itu lintas batas pada saat ada kumulasi asap yang cukup banyak, kita lakukan water bombing, weather modified technology dan sebagainya," ungkapnya
"Tapi effot itu memang signifikan, terutama memang sudah ada instruksi dari Presiden sehingga lebih sistematis, tidak hanya KLHK tetapi juga semua unsur di lapangan melakukan upaya-upaya pengendalian kebakaran hutan," tandas Laksmi. (CR-9)

