Soal Penggunaan Bioplastik, Ternyata Teknologi Saja Tak Akan Cukup
JAKARTA, investortrust.id – Ilmuwan asal Jerman yang juga Rektor The Technical University of Munich (TUM), Prof Volker Sieber mengingatkan, teknologi saja tidak cukup untuk mendorong penggunaan produk lamah lingkungan, seperti bioplastik. Penggunaan bioplastik secara masif harus didukung regulasi pemerintah.
“Ini bukan semata soal teknologi, tetapi juga perlu regulasi yang mendukung penggunaan produk berkelanjutan,” ujar Prof Volker Sieber pada sesi tanya jawab kuliah umum Bioeconomy with TUM: Pioneering Sustainable Solutions for a Changing World di The Habibie-Ainun Library di Jakarta, Senin (09/10/2023).
Baca Juga
Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Energi Biomassa Limbah Pangan Terbesar di Dunia
Acara yang digelar The Habibie Center bersama TUM Campus Straubing itu juga menghadirkan Ketua Dewan Pengawas Habibie Center Ilham Akbar Habibie, Ketua Institut Demokrasi, Sains, Teknologi dan Inovasi (IDSTI) The Habibie Center yang juga Profesior Riset di Badan Tiset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Eniya Listiani Dewi, Managing Director TUM Asia Markus Watcher, Duta Besar Jerman untuk Indonesia dan Timor Leste Ina Lepel, serta peneliti Habibie Center Herawati.
Menurut Prof Volker Sieber, negara-negara Uni Eropa berhasil memassalkan penggunaan produk berbasis bioplastik --plastik berbahan baku ramah lingkungan dan bisa didaur ulang-- karena didukung regulasi pemerintah masing-masing negara. “Jadi, regulasi sangat penting,” tegas dia, menjawab pertanyaan Tania, manajer riset kendaraan listrik, tentang isu plastik di Indonesia dan penggunaan rumput laut sebagai bahan baku produk bioplastik.
Sieber menjelaskan, laut merupakan sumber daya yang kaya bahan baku pembuatan produk ramah lingkungan. Contohnya rumput laut. “Rumput laut adalah sumber daya yang sangat berharga karena bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku produk ramah lingkungan,” tutur dia.
Dia mengakui, teknologi memegang peranan penting dalam mendorong penggunaan produk ramah lingkungan. “Tetapi yang tak kalah penting adalah regulasi atau kebijakan pemerintah yang pro pengembangan sumber daya laut untuk menghasilkan produk-produk berkelanjutan,” tandas dia.
Baca Juga
Profesor Ini Bilang Indonesia Sedang Mengembangkan Bahan Bakar Khusus, Apa Itu?
Sieber menambahkan, sebagai negara produsen rumput laut, Indonesia bisa memanfaatkan bahan-bahan produk ramah lingkungan, termasuk bioplastik. “Rumput laut adalah sumber daya yang sangat baik. Memiliki rumput laut yang banyak sangat penting, bahkan teknologi sekarang menjadikan produksi rumput kaut lebih efisien. Indonesia memiliki potensi yang sangat baik di sini,” tegas dia.
Negara-negara Eropa, kata Sieber, sedang fokus pada produksi bioplastik karena masyarakatnya telah mengimplementasikan kebijakan mengenai penggunaan plastik sekali pakai. “Misalnya di Italia, tas belanja biodegradable sudah menjadi standar. Ini masalah yang harus diatur pemerintah dan didukung para ilmuwan,” ujar Prof Sieber. (CR-3)

