Energi Terbarukan Pertamina Buka Sumber Penghidupan Baru bagi Desa
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hutan yang kembali hijau di Desa Tumpak, Lombok Tengah, dan listrik yang menerangi Dusun Bondan, Cilacap, menunjukkan perubahan yang dibawa energi terbarukan bagi masyarakat desa. Selain menyediakan akses listrik, energi membuka peluang usaha, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan sumber penghidupan baru.
Perubahan itu kini dirasakan warga melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) sejak 2018. Hingga saat ini, Pertamina telah mengembangkan 310 desa melalui program tersebut dan menargetkan jumlahnya mencapai 334 desa pada akhir 2026.
Di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Burhanudin bersama masyarakat pernah menghadapi kawasan hutan lindung yang gundul pada 2018. Warga kemudian melakukan penghijauan dan menanam kembali pohon di kawasan tersebut. Sekitar 30.000 pohon kini tumbuh di kawasan hutan lindung itu. Penghijauan tidak hanya membantu memulihkan lingkungan, tetapi juga membuka kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat.
Baca Juga
Pertamina Perkuat Blok 405A di Algeria, Bidik Pasokan Minyak ke RI
Peternakan mulai berkembang dan ekowisata menarik sekitar 800 wisatawan setiap tahun. Warga juga mengolah produk turunan kelapa, seperti cocopeat atau serbuk sabut kelapa, virgin coconut oil (VCO), serta briket.
Berbagai kegiatan tersebut melibatkan 60 tenaga kerja dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp 60 juta per tahun. Aktivitas produktif masyarakat turut didukung panel surya berkapasitas 6,6 kilowatt peak atau kWp.
“Semakin banyak pohon yang tertanam, semakin banyak sumber perekonomian baru yang tumbuh di desa ini,” kata Burhanudin dalam kegiatan DETalk bertajuk Desa Berdaya, Energi Terjaga: Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan yang digelar secara daring, Senin (2/11/2026).
Perubahan serupa terjadi di Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Jamaludin, penggerak masyarakat atau local hero di dusun tersebut, mengenang kondisi wilayahnya yang hingga 2017 belum teraliri listrik. Akses terhadap air bersih juga menjadi tantangan bagi masyarakat. Untuk mendapatkannya, warga harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer menggunakan perahu.
Kehadiran pembangkit listrik tenaga hibrida atau PLTH kemudian mengubah aktivitas sehari-hari masyarakat. Listrik tidak hanya menerangi rumah warga, tetapi juga menggerakkan aerator tambak dan teknologi desalinasi yang mengolah air payau menjadi air bersih.
Manfaat energi kemudian meluas ke kegiatan ekonomi. Para ibu mendapat pelatihan untuk mengolah hasil tambak, sementara koperasi desa mengelola keberlanjutan operasional PLTH melalui iuran Rp 25 ribu per bulan dari setiap keluarga.
Dusun Bondan juga berkembang menjadi tempat belajar bagi mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap. Masyarakat setempat terlibat langsung dalam pengelolaan fasilitas energi yang mendukung kegiatan sehari-hari mereka. “Program ini telah kami buktikan berjalan baik dan memberi manfaat nyata dan luas bagi masyarakat Dusun Bondan,” ujar Jamaludin, penerima Local Hero Award TJSL Pertamina Group 2023.
Target 732 Desa pada 2030
Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina Rudi Ariffianto menjelaskan DEB dikembangkan melalui tiga kategori, yaitu ketahanan pangan, pesisir modern, dan wisata energi. Pengembangannya dilakukan secara bertahap, mulai kategori DEB Putih, Hijau, Biru hingga Siap Mandiri. Tahapan tersebut digunakan untuk melihat perkembangan kapasitas masyarakat dan keberlanjutan program di setiap wilayah.
Sebanyak 310 Desa Energi Berdikari telah dikembangkan Pertamina, sementara 24 desa lainnya masih dalam proses pengembangan. Sekitar 60% program tersebut berada di luar Pulau Jawa.
Pertamina menargetkan jumlah DEB mencapai 334 desa pada akhir 2026. Jumlah itu direncanakan terus bertambah hingga mencapai 732 desa pada 2030. “Kami berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat, berbasis sumber daya lokal,” kata Rudi.
Berbagai desa dalam program tersebut memanfaatkan sumber energi yang beragam, mulai dari tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel hingga pembangkit hibrida. Total kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 1,595 juta watt peak dan produksi biogas mencapai 973 ribu meter kubik.
Pemanfaatan energi itu juga mendukung kegiatan pangan. Program DEB telah menghasilkan lebih dari 21.000 ton beras dan 5.000 ton komoditas nonberas dari lahan sekitar 2.000 hektare. Di sektor perikanan, program DEB Pesisir Modern berkontribusi terhadap produksi sekitar 390 ton ikan tangkap per tahun. Sejumlah desa juga mengembangkan sektor wisata sebagai sumber pendapatan baru.
Ekowisata DEB Uma Palak di Denpasar menghasilkan perputaran ekonomi Rp 540 juta per tahun. Sementara Kampung Kepiting di Cilacap mencatatkan nilai ekonomi Rp 601.000 per tahun.
Secara keseluruhan, program tersebut menghasilkan nilai ekonomi kerakyatan lebih dari Rp 26 miliar per tahun dan memberikan manfaat kepada lebih dari 283.000 orang.
Pengembangan program juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola energi terbarukan. Sebanyak 223 local hero telah mendapatkan sertifikasi sebagai operator energi baru terbarukan atau EBT.
Di Desa Keliki, Ubud, pemanfaatan energi turut meningkatkan produktivitas pertanian. Frekuensi panen padi yang sebelumnya hanya sekali setahun meningkat menjadi hingga tiga kali, sedangkan hasil panen bertambah dari 3-4 ton menjadi 7 ton per hektare.
Baca Juga
Pertamina dan Toyota Perpanjang Kerja Sama hingga 2030, Bidik Energi Rendah Karbon
Manfaat energi terbarukan juga dirasakan masyarakat saat menghadapi situasi darurat. DEB Watumite di Ende mampu menjaga ketersediaan listrik dan akses internet ketika terjadi bencana.
Dari sisi lingkungan, program DEB telah berkontribusi terhadap pengurangan emisi lebih dari 1,1 juta ton karbon dioksida ekuivalen dan pengelolaan 145 ribu ton sampah per tahun.
Pengembangan desa juga melibatkan kolaborasi pentahelix atau kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan media. Bersama 13 perguruan tinggi, Pertamina telah menghadirkan 40 jenis teknologi tepat guna di 134 desa.
