BEI Ungkap 3 Kelebihan Transaksi di Bursa Karbon, Cek Rinciannya
JAKARTA, Investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku penyelenggara Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) mengungkap tiga kelebihan yang bisa diperoleh perusahaan dalam melakukan transaksi di IDXCarbon.
Disampaikan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rahman, tiga kelebihan tersebut, pertama adalah transparansi harga, karena menurutnya perdagangan dilakukan secara terbuka dengan calon pembeli dan calon penjual.
“Mereka dapat melihat demand dan supply yang sudah ada,” urai Iman dalam Konferensi Pers Peluncuran Bursa Karbon Indonesia di Jakarta, Selasa (26/09/2023).
Baca Juga
KLHK Sederhanakan Registrasi SRN Bursa Karbon, Semua Sektor Usaha Bisa Masuk
Kelebihan kedua lanjut Iman, dengan melihat demand dan supply yang ada di pasar, pelaku pasar akan mendapatkan harga perdagangan terbaik.
“Ketiga, transaksi melalui IDX Carbon dapat dilakukan dengan mudah dan efisien. IDX Carbon juga menerapkan biaya transaksi yang sangat kompetitif,” sebut Iman Rahman.
Keunggulan tidak kalah penting terkait ragam mekanisme transaksi yang mudah dan sederhana. BEI menyediakan empat mekanisme perdagangan IDXCarbon, yaitu Auction, Regular Trading, Negotiated Trading, dan Marketplace.
Iman menambahkan, peluncuran bursa karbon sekaligus sebagai tindak lanjut setelah Otoritas Jasa Keuangan yang telah memberikan mandat kepada BEI sebagai penyelenggara bursa karbon, pada 18 September 2023 lalu.
Sebagai catatan, Presiden Joko Widodo telah secara resmi meluncurkan Bursa Karbon Indonesia pada Selasa (26/09/2023) di Gedung BEI, Jakarta.
Baca Juga
KLHK Sederhanakan Registrasi SRN Bursa Karbon, Semua Sektor Usaha Bisa Masuk
Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo menyebut potensi perdagangan bursa karbon Indonesia mencapai Rp 3 ribu triliun, bahkan lebih. Sekitar 60% pemenuhan emisi karbon Indonesia berasal dari sektor alam termasuk hutan.
“Bursa karbon merupakan sebuah kesempatan ekonomi baru yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sejalan dengan arah dunia menuju ekonomoi hijau,” ujar Jokowi.
Lebih lanjut Jokowi optimistis Indonesia bisa menjadi poros karbon dunia. Namun ada sejumlah prasyarat. Pertama, menjadikan standar karbon internasional sebagai rujukan dan memanfaatkan teknologi untuk transaksi sehingga efektif dan efisien.
Kedua, harus ada target dan timeline baik di pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Ketiga, perlu meregulasi karbon sukarela dengan standar internasional. (Farhan Nugraha/CR-1).

