98% Masyarakat Percaya Perubahan Iklim, Surveyor Indonesia Rilis Solusi Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Laporan Survey Burson Data, Insights & Intelligence yang bekerjasama dengan Global Methane Hub tahun 2025 menyebutkan, 98 persen masyarakat Indonesia percaya terhadap perubahan iklim. Bahkan, 81 persen di antaranya meyakini kegiatan manusia sebagai penyebab utamanya.
Terkait perubahan iklim, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menilai, seiring peningkatan tantangan perubahan iklim dan risiko bencana hidrometeorologi akan menjadikan ekonomi hijau sebagai inti dari strategi pembangunan nasional. Tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang memadai, berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi.
Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (Persero) Fajar Wibhiyadi mendukung upaya pemerintah dalam hal mitigasi atas perubahan iklim yang terjadi. Ia meyakini, bahwa terkait perubahan iklim ini tentunya tidak cukup hanya menjadi perhatian pemerintah semata, tapi juga perlu langkah strategis yang dilakukan para dunia usaha dan masyarakat.
“Perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi telah menjadi faktor risiko yang perlu dimitigasi secara terukur oleh dunia usaha. Perusahaan membutuhkan pendekatan berbasis data untuk memahami potensi risiko yang dapatmempengaruhi operasional, aset, maupun keberlanjutan usaha ke depan. Selain itu, kebutuhan terhadap sustainability assurance dan climate risk assessment juga terus meningkat seiring berkembangnya implementasi prinsip ESG di berbagai sektor industri," katanya dalam siaran pers, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga
Saat ini, Surveyor Indonesia telah meluncurkan SIClirisk, yaitu solusi digital untuk menghadapi tantanganperubahan iklim yang semakin kompleks. "Pengembangan SIClirisk merupakan bagian dari strategi PT Surveyor Indonesia dalam memperkuat Green Services dan Sustainability Assurancesebagai bagian dari transformasi industri TICC (Testing, Inspection, Certification, and Consultation)," kata Fajar.
Ia menambahkan, melalui SIClirisk, para pelaku usaha dapat terbantu dalam melakukan identifikasi, analisis, serta mitigasi risiko iklim secara lebih komprehensif. Dengan memanfaatan teknologi geospasial, AI, dan analitik data, hal ini menjadi penting bagi kalangan usaha untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Harapannya, SIClirisk dapat mendukung pelaku usaha dalam memperkuat manajemen risiko iklim, meningkatkan transparansi sustainability, serta mendukung transformasi menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga
Pemerintah Butuh Rp 470 T Setahun untuk Mitigasi Perubahan Iklim, Kadin Diminta Berkolaborasi
SIClirisk disiapkan dengan dashboard interaktif yang mengintegrasikan berbagai layer data seperti tutupan lahan, deforestasi, emisi, konservasi, serta analitik risiko iklim berbasis data citrasatelit dan geospasial. Platform ini juga menyediakan berbagai fitur seperti Climate Risk Rating, Carbon Stock Mapping, Flood Risk Assessment, Hydrology Modelling System, Early Warning System, Sustainability Planning, hingga Green Financing Support.

