Dayabumi Energi Perkuat Implementasi ESG di Industri Farmasi dan Bioteknologi lewat PLTS Anvita dan Etana
Poin Penting
|
KARAWANG, investortrust.id – Komitmen terhadap transisi energi dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor industri kian menguat. Hal ini tercermin dari kolaborasi strategis antara Dayabumi Energi dengan Anvita Pharma Indonesia dan Etana Biotechnologies Indonesia dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di fasilitas produksi kedua perusahaan.
Proyek yang diumumkan dalam acara di Karawang, Senin (27/04/2026), ini memiliki total kapasitas mencapai 1 MWp dan dibangun secara bertahap, mencakup 480 kWp di fasilitas Anvita dan 582 kWp di fasilitas Etana. Inisiatif ini menjadi contoh konkret integrasi energi terbarukan ke dalam operasional industri dengan standar tinggi, khususnya di sektor farmasi dan bioteknologi yang menuntut keandalan energi, kebersihan, dan keselamatan operasional.
Chairman Dayabumi Group Gamma A. Thohir menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini sangat ditentukan oleh kualitas eksekusi di lapangan. “Membangun standar operasional yang baik menjadi kunci dalam proyek ini. Proyek berjalan tanpa penghentian aktivitas produksi farmasi, sekaligus menjaga keselamatan pekerja. ESG bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga kualitas keselamatan dan kebersihan,” ujarnya.
Baca Juga
Hilirisasi dan ESG Perkuat Fondasi Industri Tambang Nasional
Integrasi Energi Bersih
Tahap pertama proyek telah direalisasikan di fasilitas produksi Anvita Pharma Indonesia dengan kapasitas 480 kWp. Implementasi ini menjadi sorotan karena dilakukan di lingkungan industri dengan sensitivitas tinggi, di mana proses produksi tidak boleh berhenti dan harus memenuhi standar kebersihan yang ketat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dayabumi Energi menerapkan metode live-installation with zero shutdown, yakni proses instalasi tanpa menghentikan aktivitas produksi. Pendekatan ini membutuhkan perencanaan teknis yang matang, koordinasi lintas tim yang presisi, serta penerapan standar keselamatan dan kebersihan yang ketat—dengan kompleksitas setara pembangunan infrastruktur energi di fasilitas kritikal seperti pusat data.
Dari sisi manfaat, sistem PLTS di Anvita diproyeksikan mampu menghemat biaya listrik sekitar Rp31 juta per tahun serta menurunkan emisi karbon hingga 259 ton CO₂ per tahun. Efisiensi ini memperkuat daya saing perusahaan sekaligus mendukung target keberlanjutan global.
Sektor Bioteknologi
Melanjutkan keberhasilan tersebut, Dayabumi Energi akan mengembangkan PLTS atap berkapasitas 582 kWp di fasilitas Etana Biotechnologies Indonesia. Proyek ini dirancang dengan pendekatan serupa, mengingat karakteristik industri bioteknologi yang juga membutuhkan tingkat keandalan dan presisi tinggi.
Gamma A. Thohir menekankan bahwa setiap sektor memiliki tantangan berbeda dalam implementasi ESG. “Di industri bioteknologi, keandalan dan kualitas menjadi sangat krusial. Kami memastikan setiap implementasi dilakukan dengan standar tinggi, sehingga tidak hanya efisien secara energi tetapi juga mendukung keberlanjutan operasional,” katanya.
Implementasi di Etana diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya listrik sekitar Rp38 juta per tahun serta penurunan emisi karbon sekitar 314 ton CO₂ per tahun. Inisiatif ini memperkuat posisi Etana sebagai perusahaan biofarmasi yang tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga keberlanjutan operasional.
Secara keseluruhan, proyek PLTS Dayabumi Energi di Anvita dan Etana diproyeksikan memberikan penghematan biaya listrik hingga Rp70 juta per tahun, sekaligus menurunkan emisi karbon sebesar 573,17 ton CO₂ per tahun.
Selain memberikan manfaat ekonomi, penggunaan energi surya ini juga mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan mendukung agenda transisi energi nasional menuju sistem yang lebih berkelanjutan. Integrasi PLTS atap dinilai mampu dilakukan secara aman, efisien, dan scalable, bahkan di sektor industri dengan standar operasional paling ketat sekalipun.
Peran Strategis
Anvita Pharma Indonesia, yang didirikan pada 2018, merupakan perusahaan farmasi berbasis riset yang fokus pada pengembangan dan produksi Active Pharmaceutical Ingredients (API), khususnya molekul kecil. Dengan fasilitas manufaktur berstandar GMP modern dan peran sebagai Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO), Anvita menjadi salah satu pelopor perusahaan API swasta di Indonesia dan berkontribusi pada ketahanan industri farmasi nasional.
Sementara itu, Etana Biotechnologies Indonesia, yang berdiri sejak 2014, merupakan perusahaan biofarmasi yang fokus pada pengembangan terapi inovatif seperti biosimilar, antibodi monoklonal, serta produk untuk penyakit metabolik, autoimun, dan kanker. Dengan fasilitas berstandar internasional (cGMP dan PIC/S) serta kemitraan global, Etana berkomitmen meningkatkan akses terhadap terapi medis berkualitas di dalam negeri.
Adapun Dayabumi Energi, yang didirikan pada 2025 sebagai bagian dari Dayabumi Group, berfokus pada pengembangan solusi energi bersih berbasis PLTS dengan pendekatan kualitas eksekusi dan standar operasional tinggi. Perusahaan ini mengedepankan integrasi keandalan sistem, efisiensi operasional, dan prinsip ESG untuk memenuhi kebutuhan energi industri modern, termasuk fasilitas dengan karakteristik operasional kritikal.
Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi referensi bagi sektor industri lainnya dalam mengadopsi energi terbarukan tanpa mengorbankan stabilitas operasional. Dengan pendekatan teknis yang tepat, integrasi energi bersih tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing jangka panjang.
Dayabumi Energi menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan solusi energi yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industry-menggabungkan teknologi, kualitas kerja, dan dampak jangka panjang dalam satu ekosistem transformasi energi.

