Kurangi Impor, Forsta Kalmedic Genjot Industri Alkes Berbasis Teknologi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Anak usaha PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Forsta Kalmedic Global, terus memperkuat perannya dalam mendorong kemandirian industri alat kesehatan (alkes) nasional melalui pengembangan manufaktur berbasis teknologi yang selama ini masih didominasi produk impor.
Direktur PT Forsta Kalmedic Global, Yvone Astri Della Sijabat, menjelaskan bahwa langkah perusahaan memasuki industri alat kesehatan dilandasi oleh visi Kalbe untuk bertransformasi dari perusahaan farmasi menjadi perusahaan kesehatan yang terintegrasi.
“Karena Kalbe memposisikan diri lebih dari sekadar perusahaan farmasi. Kalbe ingin dikenal sebagai perusahaan kesehatan. Jika kita berbicara tentang health care company, maka harus dilihat sebagai satu rantai ekosistem,” ujar Yvone saat ditemui Investortrust.id di Kalbe Business Innovation Center (KBIC), Jakarta Timur, Rabu (25/3/2026).
Menurutnya, ketahanan kesehatan nasional tidak cukup hanya bergantung pada industri farmasi, tetapi juga harus mencakup kemandirian alat kesehatan. Hal ini semakin terlihat jelas saat pandemi Covid-19, yang mengungkap tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor alkes.
Forsta sendiri didirikan pada 2019, tepat sebelum pandemi melanda. Krisis global tersebut justru menjadi momentum penting yang memperkuat urgensi pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri.
“Setelah Covid-19, kita menyadari bahwa ketergantungan impor alkes sangat besar. Ini menjadi dorongan kuat bagi kami untuk mempercepat pembangunan kapasitas manufaktur dalam negeri,” jelasnya.
Baca Juga
Laba Kalbe (KLBF) Dipercaya Masih Tumbuh, Harga Saham Menuju Rp 1.710
Dalam kurun waktu sekitar tujuh tahun, Forsta telah mengembangkan berbagai produk strategis, mulai dari alat kesehatan habis pakai hingga perangkat berteknologi tinggi. Beberapa produk tersebut meliputi surgical suture (benang operasi) dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40%, dialyzer untuk kebutuhan cuci darah, serta culture media untuk mendukung proses laboratorium.
“Kami juga menjadi yang pertama di Indonesia untuk memproduksi dializer. Produk ini sangat dibutuhkan karena pasien gagal ginjal harus menjalani cuci darah dua hingga tiga kali seminggu,” ungkap Yvone.
Di segmen perangkat medis, Forsta turut memproduksi mobile X-ray dan CT scan melalui kerja sama dengan GE Healthcare. Perusahaan secara strategis memilih untuk mengembangkan produk dengan tingkat kompleksitas tinggi dan hambatan masuk (entry barrier) yang besar.
“Mari kita buat sesuatu yang sulit, dengan teknologi tinggi yang tidak semua pihak mampu mengembangkannya. Kami fokus pada produk yang sangat dibutuhkan sekaligus memiliki entry barrier tinggi,” tambahnya.
Saat ini, Forsta mengoperasikan dua fasilitas produksi yang berlokasi di Kalbe Business Innovation Center (KBIC) dan di kawasan Bogor, Jawa Barat, khususnya untuk produksi CT scan. Produk-produk tersebut telah digunakan secara luas di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia, baik di wilayah Jabodetabek maupun di luar Pulau Jawa.
Ke depan, perusahaan juga mulai membidik pasar ekspor. Beberapa produk telah terdaftar di negara seperti Thailand dan Sri Lanka, meskipun proses ekspansi ini masih terus berjalan.
Yvone menambahkan bahwa pengembangan bisnis selanjutnya akan difokuskan pada tiga area utama, yaitu surgery, radiology, dan hemodialysis, dengan strategi peningkatan kapasitas produksi, kualitas, serta daya saing produk.
“Kami menyadari bahwa ketahanan kesehatan tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga alat kesehatan. Misi Kalbe untuk menyehatkan bangsa hanya dapat tercapai jika seluruh ekosistem kesehatan dibangun secara bersama,” tutupnya.

