Drama Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Melonjak 4%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak lebih 4% pada Rabu (12/3/2026) setelah pasar mempertimbangkan ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu pasokan energi global, meski negara-negara maju telah sepakat melepas cadangan minyak darurat.
Minyak mentah Brent, patokan global, naik 4,76% dan ditutup di level US$ 91,98 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) meningkat 4,55% menjadi US$ 87,25 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah beberapa kapal komersial dilaporkan diserang di lepas pantai Iran. Ancaman tersebut mengganggu lalu lintas kapal tanker dan kargo yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sebagian besar pasokan minyak dunia.
Sebagai respons atas gangguan pasokan tersebut, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), organisasi yang mengoordinasikan kebijakan energi negara maju, menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Langkah ini menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.
“Tantangan pasar minyak yang kita hadapi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala besar, oleh karena itu saya sangat senang bahwa negara-negara anggota IEA telah merespons dengan tindakan kolektif darurat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam pernyataannya.
Ia menambahkan bahwa pasar minyak bersifat global sehingga respons terhadap gangguan besar juga harus dilakukan secara global. “Keamanan energi adalah mandat pendirian IEA, dan saya senang bahwa anggota IEA menunjukkan solidaritas yang kuat dalam mengambil tindakan tegas bersama-sama,” ujar Birol.
Sebelumnya, pasar minyak sempat bergejolak setelah sebuah unggahan di media sosial oleh Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan secara keliru bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut sempat menekan harga minyak pada Selasa (11/3/2026). Namun, kemudian Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menjelaskan kepada wartawan bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal lain di kawasan tersebut.
Baca Juga
Situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz juga dilaporkan terus memburuk. Pada malam sebelumnya, pasukan Amerika dilaporkan menenggelamkan beberapa kapal Iran di dekat perairan tersebut, termasuk 16 kapal yang diduga digunakan untuk menyebarkan ranjau laut.
Pada Rabu pagi, Otoritas Keamanan Maritim Inggris atau UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan bahwa tiga kapal kargo di lepas pantai Iran terkena proyektil. Salah satu insiden terjadi langsung di Selat Hormuz.
Ketegangan regional juga meluas ke kawasan Teluk. Otoritas di Dubai menyatakan dua drone jatuh di sekitar Bandara Internasional Dubai pada Rabu, menyebabkan empat orang terluka. Wilayah udara di sekitar kota sempat ditutup sementara.
Analis pasar energi Marex Sasha Foss mengatakan arah harga minyak sangat bergantung pada durasi konflik yang berlangsung di kawasan tersebut.
“Kami benar-benar berpikir bahwa faktor kritisnya tetaplah durasi perang, jadi rilis data stok IEA ini benar-benar memberi kita beberapa hari, tetapi pada kenyataannya, semuanya bergantung pada pembukaan Selat Hormuz,” kata Foss kepada program “Europe Early Europe” CNBC.
Ia menilai konflik harus segera mereda agar pasar energi kembali stabil. “Konflik ini harus berakhir pada akhir pekan ini. Jika tidak, kita akan melihat harga minyak melonjak kembali di atas US$ 100,” ujar Foss.
Sejumlah pengamat pasar juga memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan antara AS dan Iran dapat mendorong harga minyak menembus level psikologis tersebut.
Baca Juga
Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik Bayangi Bursa AS, Dow Anjlok Hampir 300 Poin
Kepala Sumber Daya Alam Global Ninety One Paul Gooden mengatakan harga minyak berpotensi turun jika ketegangan geopolitik mereda dalam beberapa minggu mendatang, meski kecil kemungkinan kembali ke level awal tahun.
“Jika ketegangan mereda dalam beberapa minggu mendatang, harga minyak bisa turun, tetapi bahkan dalam skenario itu kecil kemungkinan harga kembali ke kisaran US$ 60 hingga US$ 70 seperti yang terlihat pada awal tahun ini,” kata Gooden.
Ia menambahkan bahwa gangguan pasokan yang berlangsung lebih lama dapat mendorong harga minyak naik lebih tinggi lagi. “Jika gangguan ini berlangsung lebih lama, konsekuensinya akan menjadi lebih signifikan. Harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi, berpotensi di atas US$ 120 atau bahkan lebih tinggi, hingga harga yang lebih tinggi mulai menekan permintaan,” ujarnya.

