PLN Indonesia Power Pastikan Pasokan Listrik Tetap Andal di Tengah Gejolak Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PLN Indonesia Power memastikan pasokan listrik nasional tetap andal meski konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi global dan melemahkan nilai tukar rupiah yang berpotensi menekan biaya operasional sektor pembangkitan listrik.
PT PLN Indonesia Power (PLN IP), anak usaha PT PLN Persero yang bergerak di sektor pembangkitan listrik, menilai gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi tantangan baru bagi industri energi, terutama terkait volatilitas harga bahan bakar dan pergerakan nilai tukar.
Baca Juga
Bahlil Percepat B50 dan E20 untuk Efisiensi Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT PLN Indonesia Power (PLN IP) Agung Siswanto mengatakan perusahaan memantau secara ketat perkembangan global yang dapat memengaruhi operasional pembangkitan listrik nasional. Menurutnya, konflik yang berlangsung di kawasan produsen energi dunia berpotensi memicu kenaikan harga energi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai oleh industri pembangkitan listrik. “Dampak perang Timur Tengah yang ada saat ini merupakan challenge tersendiri bagi kita pembangkitan, karena seperti yang kita ketahui setelah kami pantau, nilai kurs rupiah terhadap dolar sudah berada di kisaran Rp 17.000 per dola AS,” kata Agung kepada Investortrust di Jakarta, Senin (9/3/2026) malam.
Menurutnya, pergerakan kurs tersebut berpotensi memengaruhi biaya operasional sektor energi, terutama yang memiliki ketergantungan pada komponen impor maupun transaksi berbasis dolar AS.
Fokus Efisiensi Operasional
Agung mengatakan perusahaan merespons kondisi global tersebut dengan memperkuat langkah efisiensi operasional di seluruh lini pembangkitan. Strategi ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan operasional sekaligus memastikan layanan listrik tetap stabil bagi masyarakat.
Baca Juga
Sempat Tembus US$ 120, Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz
Ia menegaskan bahwa tantangan global tidak akan mengganggu komitmen perusahaan dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional. “Yang pertama adalah kami akan melakukan efisiensi yang sangat luar biasa, sehingga dengan adanya challenge dan tantangan global saat ini kami memastikan Indonesia bakal tetap survive dan bisa melayani masyarakat sebaik mungkin dengan memberikan listrik yang andal,” ujar Edwin.
PLN Indonesia Power menilai efisiensi operasional menjadi langkah penting untuk menghadapi dinamika pasar energi global yang semakin tidak menentu. Upaya tersebut mencakup pengelolaan biaya bahan bakar, peningkatan efisiensi pembangkit, serta optimalisasi operasional pembangkitan listrik di berbagai wilayah.
Harga minyak dunia turun tajam pada Senin (9/3/2026) malam dalam perdagangan setelah jam kerja reguler setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang menjadi kunci pasokan minyak global. Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah memicu lonjakan harga energi serta kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) turun 6,19% menjadi US$ 85,27 per barel pada pukul 15.37 waktu setempat. Sementara patokan global Brent diperdagangkan 4,6% lebih rendah di level US$ 88,43 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kontrak berjangka minyak mentah WTI ditutup naik 4,26% pada US$ 94,77 per barel setelah sempat melonjak hingga US$ 119,48 dalam perdagangan semalam. Lonjakan terjadi setelah negara-negara Teluk Arab memangkas produksi karena kapal-kapal tanker enggan melintasi Selat Hormuz akibat ancaman keamanan dari Iran.

