Sempat Tembus US$ 120, Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia turun tajam pada Senin (9/3/2026) malam dalam perdagangan setelah jam kerja reguler setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang menjadi kunci pasokan minyak global.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah memicu lonjakan harga energi serta kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.
Baca Juga
Ancaman Naiknya Harga Minyak Imbas Perang, Kadin Khawatir Defisit APBN Makin Lebar
Harga minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) turun 6,19% menjadi US$ 85,27 per barel pada pukul 15.37 waktu setempat. Sementara patokan global Brent diperdagangkan 4,6% lebih rendah di level US$ 88,43 per barel.
Dalam percakapan telepon dengan CBS News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kapal-kapal masih bergerak melalui Selat Hormuz, meskipun situasi keamanan meningkat. Ia menegaskan pemerintahannya tengah mempertimbangkan langkah lebih jauh terkait jalur tersebut. “Saya sedang mempertimbangkan untuk mengambil alihnya,” kata Trump.
Ia juga mengindikasikan bahwa konflik yang terjadi berpotensi segera berakhir.
Selain itu, Trump juga disebut mempertimbangkan kemungkinan mengurangi sanksi terhadap ekspor minyak Rusia untuk membantu menurunkan harga minyak dunia. Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa opsi tersebut sedang dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya menstabilkan pasar energi.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kontrak berjangka minyak mentah WTI ditutup naik 4,26% pada US$ 94,77 per barel setelah sempat melonjak hingga US$ 119,48 dalam perdagangan semalam. Lonjakan terjadi setelah negara-negara Teluk Arab memangkas produksi karena kapal-kapal tanker enggan melintasi Selat Hormuz akibat ancaman keamanan dari Iran.
Analis minyak di perusahaan konsultan energi Kpler Matt Smith mengatakan hanya sedikit kapal komersial yang masih melintas di jalur strategis tersebut.
Harga minyak Brent juga mencatat lonjakan signifikan sebelumnya. Patokan global itu naik 6,76% dan ditutup pada US$ 98,96 per barel setelah sempat mencapai US$ 119,50 pada awal sesi perdagangan. Kenaikan tersebut menandai pertama kalinya harga minyak melampaui US$ 100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
G7 Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak
Lonjakan harga energi mendorong negara-negara maju untuk mempertimbangkan langkah darurat guna menjaga stabilitas pasokan global. Para menteri energi negara anggota Kelompok Tujuh atau Group of Seven (G7), forum kerja sama ekonomi yang terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris Raya, dan Amerika Serikat, dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa (10/3/2026).
Pertemuan tersebut akan membahas kemungkinan pelepasan bersama cadangan minyak strategis guna meredam lonjakan harga energi.
Sebelumnya, para menteri keuangan G7 telah mengadakan pertemuan virtual pada Senin (9/3/2026) untuk membahas dampak konflik Iran terhadap stabilitas energi global. Dalam pernyataan bersama, para menteri menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah yang diperlukan guna menjaga pasokan energi.
“Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan stok,” kata para menteri dalam pernyataan tersebut.
Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, menurut analisis perusahaan konsultan energi Rapidan Energy. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya melewati jalur pelayaran tersebut, menjadikannya salah satu titik paling kritis dalam perdagangan energi global.
Wakil Presiden pasar minyak Rystad Energy Janiv Shah mengatakan harga minyak Brent berpotensi melonjak jauh lebih tinggi jika gangguan pasokan berlanjut dalam jangka waktu lama.
Menurutnya, Brent bisa naik hingga US$ 135 per barel apabila kondisi saat ini berlangsung selama empat bulan. Sementara jika gangguan bertahan dua bulan, harga diperkirakan dapat menembus di atas US$ 110 per barel.
Ketika harga minyak sempat melonjak di atas US$ 100 pada pembukaan perdagangan Minggu (8/3/2026) malam, Trump menulis di platform Truth Social bahwa lonjakan harga energi dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang dapat diterima dalam konflik tersebut.
“Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” tulis Trump.
Negara-negara produsen minyak di Timur Tengah mulai menyesuaikan produksi mereka di tengah ketidakpastian pasar dan keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), mengumumkan pengurangan produksi minyak dan output kilang secara hati-hati pada Sabtu (7/3/2026).
Produksi minyak Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, juga dilaporkan anjlok tajam. Tiga pejabat industri mengatakan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak turun sekitar 70% menjadi 1,3 juta barel per hari dari sebelumnya sekitar 4,3 juta barel per hari sebelum konflik dengan Iran.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan sedang mengelola produksi minyak lepas pantai secara hati-hati untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mengatakan operasi produksi di darat masih berjalan normal.
Baca Juga
Bursa Eropa Anjlok Dilanda ‘Panic Selling’, Investor Khawatir Eskalasi Perang Iran dan Krisis Minyak
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei memperingatkan bahwa kapal tanker harus berhati-hati saat melintasi jalur pelayaran di kawasan tersebut. “Selama situasinya tidak aman, saya pikir semua kapal tanker, semua navigasi maritim, harus sangat berhati-hati,” kata Esmail Baghaei dalam wawancara dengan CNBC.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz diperkirakan akan kembali normal setelah ancaman terhadap kapal tanker dapat dinetralisir. “Tidak lama lagi kita akan melihat lalu lintas kapal yang lebih teratur kembali melalui Selat Hormuz,” kata Chris Wright kepada CNN.
Ia menambahkan bahwa gangguan pasokan kemungkinan hanya berlangsung dalam waktu relatif singkat. “Skenario terburuknya adalah beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” ujarnya.

